Pages

Kamis, 10 Februari 2011

TEKNIK-TEKNIK SUPERVISI PENDIDIKAN


BAB I
PENDAHULUAN

Pendidikan adalah salah satu unsur paling penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan merupakan proses pendewasaan diri manusia itu sendiri. Selain itu pendidikan juga merupakan proses pembentukan pribadi dan karakter manusia. Pada satu fokus yang lebih khusus yaitu pendidikan formal, manusia diberikan dasar-dasar pengetahuan sebagai pegangan dalam menjalani hidup dan menghadapi kenyataan hidup, dimana didalam pendidikan formal dalam hal ini Sekolah, menjadi suatu jenjang yang memang sudah selayaknya dilalui dalam proses kehidupan manusia.
Setiap pelaksanaan program pendidikan memerlukan adanya pengawasan atau supervisi.Pengawas bertanggung jawab tentang keefektifan program itu. Oleh karena itu, supervisi haruslah meneliti ada atau tidaknya kondisi-kondisi yang akan memungkinkan tercapainya tujuan-tujuan pendidikan.
Dalam usaha meningkatkan program sekolah dan peningkatan mutu Pendidikan, Supervisor dari Dinas Pendidikan atau kepala sekolah sebagai supervisor dapat menggunakan berbagai teknik supervisi pendidikan. Supervisi dapat dilakukan dengan berbagai cara, dengan tujuan agar apa yang diharapkan bersama dapat tercapai. Teknik-teknik ini memiliki nilai lebih apabila di gunakan Oleh supervisor, dengan kata lain Supervisi bukan hanya pengawasan  belaka.




BAB II
PENDAHULUAN

A. PENGERTIAN SUPERVISI PENDIDIKAN
Dilihat dari sudut etimologi supervisi berasal dari kata super dan vision yang masing-masing kata itu berarti atas dan penglihatan.Jadi secara etimologis, Supervisi adalah penglihatan dari atas.Pengertian itu merupakan arti kiasan yang menggambarkan suatu posisi yang melihat berkedudukan lebih tinggi dari pada yang dilihat. Menurut Ngalim Purwanto, supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif.

B. TEKNIK-TEKNIK SUPERVISI PENDIDIKAN
Teknik adalah cara melakukan hal-hal tertentu. Seorang supervisor harus memilih teknik-teknik khusus yang serasi.Teknik supervisi adalah cara-cara khusus yang digunakan untuk menyelesaikan tugas supervisi dalam mencapai tujuan tertentu.Teknik supervisi adalah atat yang digunakan oleh supervisor untuk mencapai tujuan supervisi itu sendiri yang pada akhir dapat melakukan perbaikan pengajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi.
Teknik supervisi dapat dibadi atas dua sifat,(1) Indivdual dan (2) Kelompok. Teknik Individual adalah teknik yang dilaksanaan oleh seorang guru oleh dirinya sendiri, sedangkan kelompok adalah prosedur yang menekankan pada kerja sama dalam kelompok dalam memecahkan suatu masalah yang di rasakan penting[1].

1.        Teknik individual
1.1.  Teknik Kunjungan kelas
Yang di maksud dengan Kunjungan kelas adalah kunjungan yang di lakukan oleh pengawas atau Kepala sekolah ke sebuah kelas, baik ketika kegiatan sedang berlangsung untuk melihat atau mengamati guru yang sedang mengajar, ataupun ketika kelas sedang kosong, atau sedang berisi siswa tetapi tidak ada guru yang mengajar[2]. Tujuan kunjungan ini adalah semata-mata untuk menolong guru dalam mengatasi kesulitan atau masalah mereka di dalam kelas.Melalui kunjungan kelas, guru-guru dibantu melihat dengan jelas masalah-masalah yang mereka alami.Menganalisisnya secara kritis dan mendorong mereka untuk menemukan alternatif pemecahannya.Kunjungan kelas ini bisa dilaksanakan dengan pemberitahuan atau tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, dan bisa juga atas dasar undangan dari guru itu sendiri.
Teknik ini dengan observasi kelas sama-sama dilakukan di ruang kelas, tetapi tidak sama. Perbedaannya dapat kita lihat pada tujuan dari teknik ini dimana tujuannya untuk
1.1.1.      Membantu guru yang belum berpengalaman
1.1.2.      Membantu guru yang sudah berpengalaman tentang kekeliruanyang dilakukannya,
1.1.3.      Membantu guruyang baru pindah,
1.1.4.      Membantu melaksanakan proyek pendidikan
1.1.5.      Mengamati prilaku guru pengganti,
1.1.6.      Mendengarkan nara sumber mengajar,
1.1.7.      Mengamati tim pengajar,
1.1.8.      Mengamati cara mengajar bidang-bidang studi istimewa, serta
1.1.9.      Membantu menilai pemakaian media pendidikan baik yang beru atau pun yang canggih.
Mengenai fungsi supervisi kunjungan kelas Suhertian menegaskan bahwa supervisi kunjungan kelas berfungsi sebagai alat untuk memajukan cara mengajar dan cara belajar yang baru. Supervisi kunjungan kelas juga berfungsi untuk membantu pertumbuhan profesional baik bagi guru maupun supervisor karena memberi kesempatan untuk meneliti prinsip-prinsip dan hal belajar mengajar itu sendiri.

1.2.      Teknik Observasi Kelas
Teknik Observasi adalah kunjungan yang di lakukan oleh supervisor, baik pengawas atau kepala sekolah ke sebuah kelas dengan maksud untuk mencermati situasi atau peristiwa yang sedang berlangsung di kelas yang bersangkutan[3].Teknik observasi kelas dilakukan pada saat guru mengajar.Supervisor mengobservasi kelas dengan tujuan untuk memperoleh data tentang segala sesuatu yang terjadi proses belajar mengajar. Data ini sebagai dasar bagi supervisor melakukan pembinaan terhadap guru yang diobservasi. Tentang waktu supervisor mengobservasi kelas ada yang diberitahu dan ada juga tidak diberi tahu sebelumnya, tetapi setelah melalui izin supaya tidak mengganggu proses belajar mengajar.
Dalam tataran teoritik, observasi kelas sudah lama diperkenalkan di kalangan pendidikan seperti yang dikemukakan oleh Charles W Boardman bahwa kunjungan kelas memiliki kemampuan sangat besar dan dapat menunjang perbaikan-perbaikan pembelajaran secara langsung, bahkan dapat diamati pula jika kedapatan metode serta proses pembelajaran yang kurang memadai dilakukan oleh seorang guru, maka hal ini akan diperbaiki secara langsung tentunya mempergunakan prosedur perbaikan pembelajaran secara proporsional dan profesional.
Pada prinsip umumnya kunjungan kelas di lakukan dengan tiga kegiatan, yakni kunjungan atas permintaan dan undangan dari guru, kunjungan yang diberitahukan oleh kepala sekolah dan kunjungan mendadak (sidak) yang memang dilaksanakan oleh supervisor sebagai bagian dari tugas dia sebagai pengawas mutu pendidikan.

1.3.      Percakapan Pribadi
Merupakan teknik supervisi yang efektif, sebab memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi Kepala Sekolah atau Pengawas untuk berbicara langsung dengan Guru tentang permasalahan yang berkaitan dengan profesional pribadi mereka[4]. Dialog yang dilakukan oleh guru dan supervisornya, yang membahas tentang keluha-keluhan atau kekurangan yang dikuakan oleh guru dalam bidang mengajar, di mana di sini supervisor dapat memberikan jalan keluarnya.

1.4.      Intervisitasi (mengunjungi sekolah lain)
Teknik Intervisitasi adalah saling mengunjungi antara guru yang satu kepada guru yang lain yang sedang mengajar[5]. Teknik ini dilakukan oleh sekolah-sekolah yang masih kurang maju dengan menyuruh beberapa orang guru untuk mengunjungi sekolah-sekolah yang ternama dan maju dalam pengelolaannya untuk mengetahui kiat-kiat yang telah diambil sampai seekolahtersebut maju.

1.5.      Penyeleksi berbagai sumber materi untuk belajar (BacaanTerarah)
Cara untuk mengikuti perkembangan keguruan kita, ialah dengan berusaha mengikuti perkembangan itu melalui kepustakaan profesional, dengan mengadakan "profesional reading ".Ini digunakan untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan situasi belajar mengajar yang lebih baik.

1.6.       Menilai diri sendiri
Guru dan supervisor melihat kekurangan masing-masing yang mana ini dapat memberikan nilai tambah pada hubungan guru dan supervisor tersebut,yang akhirnya akan memberikan nilai positif bagi kegiatan belajar mengajar yang baik.

1.7.      Supervisi yang memakai para siswa.
Teknik ini adalah dengan menanyakan kepada siswa tentang belajar mengajar dan materi yang telah diajarkan.Hal inidimaksudkan untuk menilai bagaimana hasil mengajar untukpeningkatan kualitas dalam mengajar. Salah satu cara yang di pakai adalah Tes dadakan.Tes dadakan adalah tes yang di lakukan oleh supervisor terhadap siswa secara mendadak atau tiba-tiba, tanpa memberitahu guru atau siswa. Tujuannya adalah untuk mengetahui target Kurikulum dan daya serap siswa terhadap materi yang telah mereka pelajari sebelumnya[6].

1.8.      Laboratorium
Suatu tempat dimana guru-guru dapat memperoleh sumber-sumber materi untuk menambah pengetahuan dan pengalaman dalam rangka program inservice education[7].

2.            Teknik Kelompok
2.1.      Pertemuan Orientasi Bagi Guru Baru (Orientation Meeting forNew Teacher)
Pertemuan itu ialah salah satu daripada pertemuan yang bertujuan khusus mengantar guru untuk memasuki suasana kerja yang baru.Pertemuan orientasi ini bukan saja guru baru tapi juga seluruh staf guru.Hal-hal yang disajikan dalam pertemuan orientasi ini meliputi :

2.1.1.      Sistem kerja dari sekolah itu. Biasanya dilaksanakan melalui percakapan bersama, yang dapat juga diselingi dengan pengenalan fisik dan saling diskusi bersama yang disebut juga a round table discussion.

2.1.2.      Proses dan mekanisrne administrasi dan organisasi sekolah.

2.1.3.      Biasanya diiringi dengan tanya jawab dan penyajian seluruh kegiatan dan situasi sekolah.

2.1.4.      Sering juga pertemuan orientasi ini diikuti dengan tindaklanjut dalam bentuk diskusi kelompok, lokaarya selama beberapa hari, sepanjang tahun.

2.1.5.      Ada juga melalui perkunjungan ke tempat-tempat tertentu misalnya pusat-pusat industri, atau obyek-obyek sumber belajar.

2.1.6.      Salah satu ciri yang sangat berkesan bagi pembinaan segi sosial dalam orientasi ini ialah makan bersama.Juga tempat pertemuan turut juga mempengaruhi orientasi itu.

2.1.7.      Aspek lain yang membantu terciptanya suasana kerja, ialah bahwa guru baru itu tidak merasa asing tetapi ia merasa diterima dalam kelompok guru lain.Pertemuan orientasi ini merupakan juga jumpa untuk merencanakan program sekolah yang berhubungan dengan pembinaan guru dalam proses belajar mengajar.

2.2.      Panitia Penyelenggara
Suatu kegiatan bersama biasanya perlu diorganisasi.Untuk mengorganisasi sesuatu tugas bersama, ditunjuk beberapa orang penanggungjawab pelaksana.Para pelaksana yang dibentuk untuk melaksanakan sesuatu tugas yang lazim sebut panitia penyelenggara.Panitia ini dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan sekolah kepadanya, banyak mendapat pengalaman-pengalaman kerja. Pengalaman dalam usaha mencapai tujuan, pengalaman dalam mengerti carabekerja sama dengan orang lain, pengalaman yang berhubungan dengan tugas yang dibebankan. Berdasarkan pengalaman-pengalaman itu guru-guru dapat bertambah dan bertumbuh dan profesi mengajarnya.

2.3.      Rapat Guru (teacher metting)
Rapat guru berbeda dengan pertemuan formal karena pada rapat ini semua guru yang ada pada sekolah tersebut hadir.Dalam rapat ini biasanya dibicarakan masalah pengajaran, dan kepala sekolah beserta wakilnya sebagai supervisor. Namun kadang pelaksanaan rapat tersebut dikelola oleh suatu panitia guru atau tim penasehat kepala sekolah. Tujuan utamanya adalah untuk memperbaiki kualitas personal dan program sekolah dan juga memberikan kesempatan untuk berpikir kooperatif, merencanakan staf, mendorong orang untuk berbicara dan dapat mengenal sekolah secara keseluruhan.

2.4.      Tukar menukar pengalaman (sharring experience)
Teknik ini dilaksanakan secara informal dimana setiap guru menyampaikan pengalaman masing-masing dalam mengajar terhadap topik-topik yang sudah diarahkan. Karena forum ini sifatnya umum maka akan memberikan suatu pengalaman yang berharga bagi guru muda (yunior) untuk memperkuat jati diri sebagai guru. Kesimpulan yang diperoleh akan dijadikan pegangan bagi semua guru dalam mensiasati pekerjaan mereka di kelas.

2.5.       Lokakarya (Workshop)[8]
Lokakarya ini dengan cara mendatangkan para ahli-ahli pendidikan untuk mendiskusikan masalah-masalah pendidikan. Ketika itu guru-guru dapat mengambil kesimpulan dari apa yang dibicarakan. Teknik ini adalah usaha untuk mengembangkan kemampuan berfikir dan bekerja sama baik mengenai masalah-masalah teoritis maupun prakltis dengan maksud untuk meningkatkan kualitas hidup secara umum dan kualitas profesional secara khususnya.

2.6.      Panel Diskusi (Panel Discussion)
Merupakan suatu kegiatan kelompok dalam situasi tatap muka, bertukar Informasi atau untuk memutuskan sesuatu keputusan tentang masalah tertentu[9].Teknik ini dilakukan dihadapan guru oleh para pakar daribermacam sudut ilmu dan pengalaman terhadap suatu masalah yang telah ditetapkan. Merekaakan melihat suatu masalah itu sesuai dengan pandangan ilmu dan pengalaman masing-masing sehingga guru dapat masukan yang sangat lengkap dalam mnenghadapi atau memecahkan suatu masalah. Manfaat dari kegiatan ini adalah lahirnya sifat cekatan dalam memecahkan masalah dari berbagai sudut pandang ahli.

2.7.      Simposium
Kegiatan mendatangkan seorang ahli pendidikan untuk membahas masalah pendidikan.Simposium menyuguhkan pidato-pidato pendek yang meninjau suatu topik dari aspek-aspek yang berbeda.Penyuguh pidato biasanya tiga orang dimana guru sebagai pengikut diharapkan dapat mengambil bekal dengan mendengarkan pidato-pidato tersebut.

2.8.       Demonstrasi mengajar
Usaha peningkatan belajar mengajar dengan caramendemonstrasikan cara mengajar dihadapan guru dalam mengenalkan berbagai aspek dalam mengajar di kelas oleh supervisor.

2.9.       Buletin supervisi.
Suatu media yang bersifat cetak dimana disana didapati peristiwa-peristiwa pendidikan yang berkaitan dengan cara-cara mengajar,tingkah laku siswa, dan sebagainnya.Diharapkan ini dapat membantu guru untuk menjadi lebih baik.

2.10.   Organisasi profesi
Organisasi profesi guru di Indonesia adalah PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), sedangkan dosen mempunyai organisasi profesi tersendiri yaitu ADI (Asosiasi Dosen Indonesia). PGRI adalah lembaga profesi yang melindungi guru secara lembaga dalam segala sesuatu yang akan merusak citra guru baik dari dalam maupun dari luar anggotanya. Lembaga ini sekaligus memperjuangkan hak dan kewajibannya secara hukum kepada semua pihak yang langsung atau tidak langsung berhubungandengan guru.Hal ini penting untuk menjaga agar guru tidak terganggu pekerjaan pokoknya sehari-hari.

2.11.   Perjalanan Sekolah/Firld Trips
Adalah suatu cara dimana guru-guru melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah untuk memperkaya pengalaman belajar mengajar terutama bagi guru-guru yang mengalami masalah dalam tugas, sehingga mereka mendapatkan semacam selingan atau refresssing setelah melakukan pekerjaan rutin mereka di sekolah. Dengan cara ini diharapkan mendorong pertumbuhan jabatan dan kegairahan bekerja dengan sumber-sumber penglaman yang baru.

2.12.  Supervisi Sebaya (Peer Supervising)
Sejajar dengan prinsip metodologi belajar mengajar bahwa anak yang pintar diperbolehkan membantu teman-temannya dalam belajar walaupun ia tidak berhak dalam menilai keberhasilan guru yang dibantu. Teknik ini sangat berguna dalam share pengalaman guru dari teman seprofesi dalam bidangnya. Mereka akanmendapatkan kiat-kiat yang ada pada masing-masing teman terutama pada materi materi sulit. Teknik ini sangat baik dilakukan dalam forum KKG atau MGMP yang dilakukan setiap minggu,

2.13.   Pemanfaatan Nara Sumber
Sumber yang dapat memberikan pendalaman dan perluasan ilmu secara langsung, dengan kemungkinan untuk berinteraksi dan memberikan penjelasan secukupnya, berupa seorang ahli yangdapat didatangkan sebagai nara sumber (resource person).

2.14.   Mengikuti kursus
Teknik ini dilakukan oleh guru-guru untuk meningkatan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam mengajar agar tidak monoton.

2.15.  Supervisi dengan pemanfaatan Alat Elektronika
Teknik ini memanfaatkan alat-alat elektronika yang dapat menangkap gambar-gambar secara kontinu dan dapat merekam suara.Bila diadakan supervise,supervisor hanya mengoperasikan saja alat-alat tersebut.Alat ini tidak mengganggu kewajaran proses belajar mengajar.






KESIMPULAN


Teknik supervisi adalah cara-cara yang di gunakan dalam melakukan supervisi.Ada bermacam-macam teknik yang dapat di gunakan dalam supervisi Pendidikan.Pemilihan dan Penggunaan suatu teknki supervisi di tentukan oleh tujuan yang hendak di capai, masalah yang di hadapi, dan Lingkungan yang memungkinkan berlangsungnya supervisi. Secara garis besar Teknik supervise dapat di bedakan menjadi dua yakni Individual dan kelompok.
Secara Individual teknik supervisi antara lain Teknik Kunjungan kelas, Teknik Observasi Kelas,  Percakapan Pribadi, Intervisitasi, Penyeleksi berbagai sumber materi untuk belajar, Menilai diri sendiri, Kurikulum Laboratorium, dan Supervisi yang memakai pendapat para siswa. Teknik kelompok antara lain Pertemuan Orientasi Bagi Guru Baru, Panitia Penyelenggara,Rapat Guru, Tukar menukar pengalaman, Lokakarya,Panel Diskusi,  Simposium,Demonstrasi mengajar,Buletin supervisi,Organisasi profesi,Perjalanan Sekolah,Supervisi Sebaya,Supervisi dengan pemanfaatan Alat Elektronika, Mengikuti kursusdan Pemanfaatan Nara Sumber
Perlu di pahami bahwa Supervisi dan Pengawas sekolah harus mampu mengusasi berbagai Teknik yang di sebutkan di atas dengan cara menyesuaikan dengan kondisi dan situasi, dalam artian Kepala Sekolah dan Pengawas tidak berpedoman hanya pada satu Teknik saja.




DAFTAR PUSTAKA


Ari kunto, Suharsimi, 2005.Dasar-dasar Supervisi. Jakarta: Rineka cipta
Burhanuddin, Yusak, 1998. Administrasi Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia
Darwis, Amri, 2009. Panduan praktis pelaksanaan Administrasi dan Supervisi
                        Pendidikan.Pekanbaru: Suska Press
Hamalik, Oemar, 1992. Administrasi dan Supervisi Pengembangan Kurikulum.
                        Bandung: Mandar maju
Suhertian, Piet A, 1981. Prinsip dan Teknik Supervisi Pendidikan. Surabaya: Usaha
                        nasional




[1] Oemar hamalik, Administrasi dan Supervisi pengembangan kurikulum, (Bandung: Mandar maju, 1992),h. 172
[2] Suharsimi Ari kunto, Dasar-dasar Supervisi, (Jakarta: Rineka cipta, 2005),h. 54
[3] Suharsimi ari kunto, Ibid., h. 55
[4] Yusak Burhanuddin, Administrasi pendidikan, (Bandung: CV Pustaka setia, 1998),h. 106
[5] Piet A Suhertian, Prinsip dan Teknik Supervisi Pendidikan, (Surabaya: Usaha nasional, 1981),h. 76
[6]Amri darwis (Editor), Panduan praktis pelaksanaan Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Pekanbaru: Suska Press, 2009),h. 39
[7] Piet A. Suhertian, Ibid., h. 129
[8] Oemar hamalik, Ibid., h. 172
[9] Yusak Burhanuddin, Ibid., h.106

Tidak ada komentar:

Posting Komentar