Pages

Kamis, 10 Februari 2011

Ingatan dan lupa dalam belajar

BAB I
PENDAHULUAN

Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia peserta didik dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar mereka. Dalam hal ini tentunya sangat di perlukan pendidik yang professional yang berusaha membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Untuk melaksanakan profesinya, tenaga Pendidik khususnya guru sangat memerlukan beragam pengetahuan Psikologis yang memadai.
Perlu di ingat bahwa Siswa atau peserta didik memiliki karakteristik masing-masing, masing-masing Individu memiliki perbedaan, baik itu fisik maupun Psikis. Implikasinya adalah seorang guru tidak boleh melakukan generalisasi terhadap semua peserta didik. Seorang guru harus mampu memahami peserta didiknya dan bagaimana pemberian perlakuan terhadapnya. Pemahaman yang perlu di kuasai oleh guru salah satunya adalah tentang Ingatan dan Lupa yang biasanya pasti di alami oleh peserta didik.
Banyak sekali fenomena, pertanyaan dan permasalahan tentang Ingatan dan Lupa dalam belajar yang timbul di lingkup Pendidikan, umumnya orang hanya mengetahui kulit luar dari Ingatan dan lupa namun bagaimana teknik dan ragam dari kedua hal ini masih banyak menimbulkan tanda tanya. Alhasil permalasahan-permasalahan tentang ingatan dan lupa yang timbul pada diri siswa tidak mampu di antisipasi oleh Pendidik. Mengingat betapa pentingnya masalah ini, oleh sebab itu kami menulis sebuah makalah yang berjudul “ Ingatan Dan Lupa Dalam Belajar”


BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN INGATAN
Secara sederhana, Irwanto mendefinisikan ingatan sebagai kemampuan untuk menyimpan informasi sehingga dapat digunakan lagi di masa yang akan datang. menurut Walgito, Ingatan adalah kemampuan psikis untuk memasukan, menyimpan, dan menimbulkan kembali hal-hal yang lampau . Sebagai suatu proses, memori menunjukkan suatu mekanisme dinamik yang diasosiasikan dengan penyimpanan (storing), pengambilan (retaining), dan pemanggilan kembali (retrieving) informasi mengenai pengalaman yang lalu. Santrock mendefinisikan ingatan sebagai retensi informasi yang telah diterima melalui tahap : penkodean (encoding), penyimpanan (storage), dan pemanggilan kembali (retrieval). Penelitian ini menggunakan definisi ingatan menurut Santrock, yaitu informasi-informasi yang berasal dari lingkungan dan informasi ini akan diproses melalui tahapan : penkodean, penyimpanan, dan pemanggilan kembali sehingga informasi yang masuk tidak terbuang secara sia-sia. Menurut Schelessinger dan Groves, Ingatan adalah system yang berstruktur, yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing perilakunya .
Dari pengertian di atas setidaknya bisa kita simpulkan bahwa tahapan Ingatan ada 3, yakni :
1. Penkodean
Proses pengubahan informasi menjadi simbol-simbol atau gelombang-gelombang tertentu yang sesuai dengan peringkat yang ada pada organisme.

1.1. Penkodean dalam Ingatan Sensori
Pada saat melihat sesuatu atau telinga mendengar sesuatu, informasi dari indera-indera akan diubah dalam bentuk impuls-impuls neural dan dihantar ke bagian tertentu di otak. Proses ini berlangsung dalam waktu sepersekian detik. Sinar yang mengenai retina diterima oleh reseptor-reseptor yang ada kemudian sinar tersebut ditransformasikan bentuknya ke dalam impuls-impuls neural dan dikirim ke otak.

1.2. Penkodean dalam Ingatan Jangka Pendek
Informasi yang masuk melalui indera dan disimpan dalam ingatan sensori dapat dianggap sebagai bahan mentah yang jumlahnya banyak sekali. Jumlah yang banyak itu akan diseleksi menurut beberapa cara dalam control proceses (proses-proses pengendalian). Pertama, informasi yang masuk akan dirujukkan ke gudang informasi dalam ingatan jangka panjang. Pada ingatan jangka panjang, pola-pola informasi yang masuk dibandingkan dengan pola-pola yang telah ada sebelumnya. Dengan demikian, akan terpilih informasi yang sudah dikenal atau yang mempunyai makna. Kedua, mekanisme lain yang digunakan untuk menyeleksi informasi adalah attention (perhatian). Perhatian ini menyaring informasi yang masuk ke dalam ingatan jangka pendek sehingga hanya sebagian kecil yang boleh lewat.

2. Penyimpanan
Informasi yang telah diubah akan dipertahankan pada tahap penyimpanan. Penyimpanan adalah suatu proses mengendapkan atau menyimpan informasi yang diterima dalam suatu tempat tertentu. Penyimpanan ini sudah sekaligus mencakup kategorisasi informasi sehingga tempat informasi disimpan sesuai dengan kategorinya. Penyimpanan informasi merupakan mekanisme penting dalam ingatan. Sistem penyimpanan ini sangat mempengaruhi jenis ingatan yang akan diperagakan oleh organisme.

2.1. Penyimpanan dalam Ingatan Sensori
Ingatan sensori mempunyai kapasitas penyimpanan informasi yang sangat besar, tetapi informasi yang disimpan tersebut cepat sekali menghilang. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa informasi yang disimpan dalam ingatan sensori akan mulai menghilang setelah sepersepuluh detik dan hilang sama sekali.

2.2. Penyimpanan dalam Ingatan Jangka Pendek
Kapasitas dalam ingatan jangka pendek sangat terbatas untuk menyimpan sejumlah informasi dalam jangka waktu tertentu. Rathus menyatakan jika informasi yang diterima setelah 10 sampai 12 detik tidak diulangi, maka informasi tersebut akan hilang.

2.3. Penyimpanan dalam Ingatan Jangka Panjang
Kapasitas ingatan jangka panjang sangat besar. Hal ini memungkinkan penyimpanan informasi yang luar biasa banyaknya yang diperoleh sepanjang hidup organisme. Meskipun demikian, ingatan masih bekerja sangat efisien yaitu dengan jalan mengorganisasikan informasi yang diterima dari ingatan jangka pendek. Reorganisasi ini erat hubungannya dengan proses retrieval atau proses mengingat kembali informasi yang telah disimpan

3. Pemanggilan Kembali
Proses mengingat kembali merupakan suatu proses mencari dan menemukan informasi yang disimpan dalam ingatan untuk digunakan kembali bila diperlukan.

B. MACAM-MACAM INGATAN
Atkinson dan Shriffin, mengembangkan suatu tahapan ingatan yang dikenal dengan Three-Stage Model of Memory yang membagi ingatan manusia atas 3 jenis utama, yaitu :
1. Ingatan Sensori (Sensory Memory)
Proses penyimpanan ingatan melalui jalur saraf-saraf sensori yang berlangsung dalam waktu yang pendek. Informasi yang diperoleh melalui panca indera (penglihatan, perabaan, penciuman, pendengaran, dan pengecapan) hanya mampu bertahan selama 1 atau 2 detik. Pernyataan ini didukung oleh Rathus, yang menyatakan bahwa informasi yang pertama kali kita terima dari lingkungan dan diperoleh melalui panca indera hanya mampu bertahan 1 detik. Informasi yang diterima dengan indera penglihatan hanya mampu bertahan seperempat detik.

2. Ingatan Jangka Pendek (Short Term Memory)
Adalah suatu memori berkapasitas terbatas di mana informasi di pertahankan sekitar 30 detik . Ingatan jangka pendek disebut juga working memory karena informasi yang disimpan hanya dipertahankan selama informasi masih diperlukan. Jika informasi tidak diulang kembali dalam kurun waktu 30 detik, maka informasi pada ingatan jangka pendek akan menghilang.

3. Ingatan Jangka Panjang (Long Term memory)
Suatu proses penyimpanan informasi yang relatif permanen dan biasanya menetap dalam ingatan Individu tersebut.

C. METODE MENGINGAT
Teknik ingatan adalah teknik memasukkan segala informasi yang kita peroleh ke dalam otak sesuai dengan cara kerja otak. Pada dasarnya otak sangat menyukai dengan hal-hal seperti, sesuatu yang tidak masuk akal dan berlebihan, penuh warna, multi sensori atau melibatkan seluruh panca indera, menggunakan asosiasi, imajinasi, humor, simbol dan lain sebagainya. Semakin kita bisa menggunakan hal- hal tersebut, semakin maksimal pula kemampuan mengingat kita.
Adapun beberapa metode mengingat, diantaranya yaitu:
1. Metode pengulangan
Informasi yang di ulang-ulang akan semakin di ingat. Untuk salah satu strategi peningkatan kemampuan memori adalah mengulang-ulang kembali. Ini selaras dengan teori pembiasaan .

2. Teknik Asosiasi
Teknik asosiasi atau cantolan adalah bagaimana cara kita mengasosiasikan pelbagai hal dalam memori kita. Kita dapat menggunakan asosiasi sederhana untuk mengingat potongan-potongan informasi. Selain itu, teknik ini juga untuk mengajarkan daftar informasi yang panjang, terutama saat kita ingin mengingat informasi dengan urutan tertentu.

3. Sistem Mata Rantai
Yang di maksud dengan Sistem mata rantai adalah Informasi yang akan di ingat harus mempunyai hubungan dengan yang lain . Metode ini juga disebut dengan metode cerita, sebab dengan cerita ada item-item yang dihubungkan secara berurutan baik dari depan maupun dari belakang dan akan mudah diingat.
4. Sistem Loci atau Lokasi
Dengan metode ini, kita bisa mengasosiasikan informasi yang ingin kita ingat dengan lokasi tertentu. Kita dapat mengingat informasi dengan mudah jika kita meletakkannya di tempat tertentu.

5. Total Story Technique (TST)
Teknik ini dilakukan dengan cara membuat cerita singkat dari hal-hal yang akan kita hafalkan. Misalnya kita akan berbelanja di supermarket untuk membeli beras, shampo, susu, permen karet, pembersih lantai, telur, kecap, keju, saos tomat, tisu. Daripada berusaha menghafalnya, lebih baik Anda membuat cerita untuk hal-hal ini menjadi Dewi Sri (merupakan legenda dewi padi yang menggambarkan beras) sedang keramas (shampo) sambil mandi susu. Sedangkan di luar, si Mbok yang sedang mengunyah permen karet sambil mengepel (permbersih lantai) sudah menyiapkan telur rasa kecap bertabur keju dan saos tomat yang lembut seperti tisu.

6. Total Word Technique (TWT)
Pada teknik ini informasi yang ingin diingat diubah menjadi singkatan-singkatan atau jika informasi yang akan diingat merupakan kata-kata asing, dapat diubah menjadi kata-kata yang kedengarannya hampir sama. Teknik ini sering disebut juga dengan istilah jembatan keledai. Setelah itu, baru dibuat cerita agar dapat diterima oleh otak kanan.Misalnya, ketika harus menghafal 8 planet mulai dari yang terdekat matahari. Urutannya adalah Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus. Jika menghafalnya terasa sulit, bisa diubah menjadi kalimat "Mengendarai Vespa Bukan Mainan, Judi Sahabat Urip Nekad".

7. Total Number Technique (TNT)
Teknik ini digunakan untuk mengingat angka-angka. Karena otak kanan tidak mengenal angka atau tulisan, maka perlu dibuat cerita agar dapat dikenali otak kanan. Misalnya, Anda harus mengingat angka 212.007.217.080.205. Anda dapat mengubahnya menjadi cerita seperti Wiro Sableng (212) dan James Bond (007), keduanya (2) sedang mengikuti upacara kemerdekaan (1708) pada hari pendidikan nasional (0205).

D. PENGERTIAN LUPA
Lupa (forgetting) ialah hilangnya kemampuan untuk menyebut atau memproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah kita pelajari. Secara sederhana, Gulo dan Reber mendefinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami. Dengan demikian, lupa bukanlah peristiwa hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita .
E. SEBAB TERJADINYA LUPA
1. Lupa dapat terjadi karena sebab gangguan konflik antara item-item informasi atau materi yang ada dalam system memori siswa. Dalam interference theory (teori mengenai gangguan), gangguan konflik ini terbagi menjadi dua, yaitu: a) practice interference; b) retroactive interference.Seorang siswa akan mengalami gangguan proactive apabila materi pelajaran lama yang sudah tersimpan dalam subsistem akal permanennya mengganggu masuknya materi pelajaran baru. Peristiwa ini bisa terjadi apabila siswa tersebut mempelajari sebuah materi pelajaran yang sangat mirip dengan materi pelajaran yang telah dikuasainya dalam tenggang waktu yang pendek. Dalam hal ini materi yang baru saja dipelajari akan sangat sulit diingat atau diproduksi kembali.Sebaliknya, seorang siswa akan mengalami ganguan retroactive apabila materi pelajaran baru materi yang baru kita pelajari tidak dapat masuk ke dalam ingatan, karena terhambat oleh materi lain yang sudah terlebih dahulu di pelajari . Dalam hal ini, materi pelajaran lama akan sangat sulit diingat atau diproduksi kembali. Dengan kata lain siswa tersebut lupa akan materi peajaran lama itu.

2. Lupa yang di akibatkan represi. Tanggapan-tanggapan atau isi jiwa yang di tekan kedalam ketidak sadaran .

3. Lupa dapat terjadi karena sebab perubahan sikapdan minat siswa terhadap proses dan situasi belajar tertentu. Jadi, meskipun seorang siswa telah mengikuti proses belajar-mengajar dengan tekun dan serius, tetapi karena sesuatu hal sikap dan minat siswa tersebut menjadi sebaliknya (seperti karena ketidaksenangan terhadp guru) maka materi pelajaran itu akan mudah terlupakan.

4. Law of disuse, lupa dapat terjadi karena sebab materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunaakan atau dihafalkan siswa. Menurut asumsi sebagian ahli, materi yang diperlakukan demikian akan masuk ke alam bawah sadar atau mungkin juga bercampur aduk dengan materi pelajaran baru .

5. Lupayang terjadi karena sebab perubahan urat syaraf otak. Seorang siswa yang terserang penyakit tertentu seperti keracunan, kecanduan alcohol, dan geger otak akan kehilangan ingatan ata item-item informasi yang ada dalam memori permanennya.
F. KIAT-KIAT MENGURANGI LUPA DALAM BELAJAR
Kiat terbaik untuk mengurangi lupa adalah dengan cara meningkatkan daya ingat akal siswa. Banyak ragam kiat yang dapat dicoba siswa dalam meningkatkan daya ingatannya, antara lain menurut Barlow, Reber, dan Anderson, adalah sebagai berikut:
1. Over learning
Over learning (belajar lebih) artinya upaya belajar yang melebihi batas penguasaan dasar atas materi pelajaran tertentu. Over learning terjadi apabila respons atau reaksi tertentu muncul setelah siswa melakukan pembelajaran atas respon tersebut dengan cara di luar kebiasaan. Banyak contoh yang dapat dipakai untuk over learning, antara lain pembacaan teks Pancasila pada setiap hari Senin memungkinkan ingatan siswa terhadap teks Pancasila lebih kuat.

2. Extra study time
Extra study time (tambahan waktu belajar) ialah upaya penambahan alokasi waktu belajar atau penambahan frekuensi aktivitas belajar. Penambahan alokasi waktu belajar materi tertentu berarti siswa menambah jam belajar, misalnya dari satu jam menjadi dua jam waktu belajar. Penambahan frekuensi belajar berarti siswa meningkatkan kekerapan belajar materi tertentu, misalnya dari sekali sehari menjadi dua kali sehari. Kiat ini dipandang cukup strategis karena dapat melindungi memori dari kelupaan .

3. Mnemonic device
Mnemonic device (muslihat memori) yang sering juga hanya disebut mnemonic itu berarti kiat khusus yang dijadikan “alat pengait” mental untuk memasukkan item-item informasi ke dalam system akal siswa. Muslihat mnemonic ini banyak ragamnya, yang paling menonjol adalah sebagaimana terurai di bawah ini:

a) Singkatan
Yakni terdiri atas huruf-huruf awal nama atau istilah yang harus diingat siswa. Pembuatan singkatan-singkatan ini seyogianya dilakukan sedemikian rupa sehingga menarik dan memiliki kesan tersendiri.

b) System kata pasak (peg word system)
Yakni sejenis teknik mnemonic yang menggunakan komponen-komponen yang sebelumnya telah dikuasai sebagai pasak (paku) pengait memori baru. Kata komponen pasak ini dibentuk berpasangan yang memiliki kesamaan watak (baik itu warna, rasa, dan seterusnya). Misalnya langit-bumi; panas-api; merah-darah; dan seterusnya.

4. Clustering
Clustering (pengelompokkan) ialah menata ulang item-item materi menjadi kelompok-kelompok kecil yang dianggap lebih logis dalam arti bahwa item-item tersebut memiliki signifikansi dan lafal yang sama atau sangat mirip .






KESIMPULAN

Ingatan adalah kemampuan psikis untuk memasukan, menyimpan, dan menimbulkan kembali hal-hal yang lampau. Setidaknya ada tiga tahap dalam ingatan, yakni Perekaman, penyimpanan dan pemanggilan. Perekaman adalah pencatatan informasi melalui reseptor indera. Penyimpanan adalah menentukan berapa lama informasi itu berada beserta kita, dan yang terakhir adalah pemanggilan, yakni bagaimana kita menggunakan kembali informasi yang telah di simpan. Berbicara jenis-jenis Ingatan maka secara garis besar dapat di bagi menjadi 3, yakni ingatan sensoris, ingatan jangka pendek dan ingatan jangka panjang.
Dalam belajar, ingatan merupakan hal yang harus mendapat perhatian yang besar, berbagai metode mengingat dapat di gunakan orang terutama ketika belajar. Metode-metode itu antara lain Metode pengulangan, Teknik Asosiasi, Sistem Mata Rantai, Sistem Loci atau Lokasi, Total Story Technique (TST),Total Word Technique (TWT), dan Total Number Technique (TNT).
Berlawanan dengan ingatan adalah Lupa. Lupa merupakan hal yang sangat sering terjadi dalam proses pembelajaran. Lupa adalah hilangnya kemampuan untuk mengulang kembali apa yang telah kita pelajari. Pada umumnya semua orang yang berusaha menghindari kelupaan dalam belajar, namun perihal kelupaan masih tetap menghantui setiap Individu, hal ini di sebabkan beberapa factor. Namun demikian ada beberapa kiat untuk menghindari kelupaan, antara lain Over learning, Extra study time, Mnemonic device dan Clustering



DAFTAR PUSTAKA


Purwanto, Ngalim, 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Rakhmat, Jalaluddin, 2008. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja rosdakarya
Saleh, Abdul rahman, 2004. Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam.
Jakarta: Kencana prenada media group
Santrock, John W, 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana prenada media
group
Sarwono, Sarlito wirawan, 2000. Pengantar Umum Psikologi, Jakarta: Bulan bintang
Syah, Muhibbin, 2008. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja grafindo persada
Walgito, Bimo, 1992. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar