Pages

Kamis, 10 Februari 2011

MENGAJAR DAN BELAJAR DALAM STANDAR PROSES PENDIDIKAN


BAB I
PENDAHULUAN

Mengajar adalah suatu perbuatan yang kompleks ( a highly complexion process). Di sebut kompleks karena di tuntut dari adanya kemampuan pprofesional, personal, dan sosio cultural secara terpadu dalam proses belajar- mengajar. Di katakan kompleks juga karena di tuntut penguasaan materi dan metode, teori dan praktik dalam interaksi siswa. Di katakan kompleks juga karena mengandung unsur-unsur seni, ilmu, teknologi, pilihan nilai, dan keterampilan dalam proses belajar- mengajar.
Mengajar adalah penciptaan sistem lingkungan yang menungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi, yakni tujuan instruksional yang ingin di capai, materi yang di ajarkan, guru dan siswa yang harus memainkan peranannya dalam hubungan sosial tertentu, jenis kegiatan yang di lakukan, serta sarana dan prasarana belajar-mengajar yang tersedia.
Setiap sistem lingkungan atau setiap peristiwa belajar-mengajar mempunyai profil yang unik, yang mengakibatkan tercapinya tujuan-tujuan yang berbeda. Atau, kalau di katakan secara terbalik, untuk mencapai tujuan belajar tertentu harus di ciptakan sistem lingkungan yang tertentu pula.
Tujuan belajar yang pencapaiannya di usahakan secara eksplisit dengan tindakan instruksional tertentu di namakan instruksional effect. Sedangkan tujuan – tujuan yang merupakan penggiring, yang tercapainya karena siswa menghidupi suatu sistem lingkungan belajar tertentu di namakan nurturant effect.
Proses pembelajaran itu sendiri menurut Standar Proses Pendidikan merupakan kegiatan yang tidak hanya menekankan peran guru di dalamnya, tetapi siswa harus di jadikan subjek atau prilaku dalam proses pembelajaran. Oleh sebab itu paradigma yang keliru tentang pembelajaran selama itu harus di ubah dan di sesuaikan dengan Standar Proses Pendidikan ( SPP ).
BAB II
PEMBAHASAN
MENGAJAR DAN BELAJAR DALAM STANDAR PROSES PENDIDIKAN

A. MENGAJAR
1.  Konsep mengajar
Konsep mengajar dalam proses perkembangannya masih di anggap sebagai suatu kegiatan penyampaian atau penyerahan ilmu pengetahuan. Pandangan semacam ini masih umum di gunakan di kalangan pengajar. Hasil penelitian dan pendapat para ahli sekarang lebih menyempurnakan konsep tradisional di atas.
Mengajar menurut pengertian mutakhir merupakan suatu perbuatan yang kompleks. Perbuatan mengajar yang kompleks dapat di terjemahkan sebagai penggunaan secara integratif sejumlah komponen yang terkandung dalam perbuatan mengajar untuk menyampaikan pesan pengajaran[1].

1. 1      Mengajar sebagai proses menyampaikan materi pelajaran
Sebagai proses menyampaikan atau menanamkan ilmu pengetahuan, maka mengajar mempunyai beberapa karakteristik sebagai berikut :
1.1.1    Proses pengajaran berpusat pada guru
Dalam kegiatan pengajaran, guru memegang peran yang sangat penting. Guru menentukan segalanya. Mau di apakan siswa? Apa yang harus di kuasai siswa? Bagaimana cara melihat keberhasilan mengajar? Semuanya tergantung guru. Oleh karena itu begitu pentingnya peran guru maka proses pembelajaran baru akan berlangsung jika ada guru.

1.1.2    Siswa sebagai objek belajar
Konsep mengajar sebagai proses menyampaikan materi pelajaran menempatkan siswa sebagai objek yang harus menguasai materi ajar. Mereka di anggap sebagai organisme pasif yang belum memahami apa yang harus di pahami, sehingga melalui proses pembelajaran mereka di tuntut memahami segala sesuatu yang di berikan guru.

1.1.3    Kegiatan pengajaran terjadi pada tempat dan waktu tertentu
Proses pengajaran berlangsung pada tempat tertentu, misalnya di dalam kelas dengan penjadwalan yang ketat, sehingga siswa hanya belajar jika hanya ada kelas yang telah di desain sedemikian rupa untuk tempat pembelajaran.

1.1.4    Tujuan utama pengajaran adalah penguasaan materi pelajaran
Keberhasilan suatu proses pembelajaran di ukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran yang di sampaikan oleh guru. Materi pelajaran itu sendiri adalah pengetahuan yang bersumber dari mata pelajaran yang di berikan di sekolah.

1.2       Mengajar sebagai proses mengatur lingkungan
Terdapat beberapa karakteristik dari konsep mengajar sebagai proses mengatur lingkungan. Antara lain :

1.2.1    Mengajar berpusat pada siswa (Student centered)
Mengajar tidak di tentukan oleh selera guru, akan tetapi sangat di tentukan oleh siswa itu sendiri. Hendak belajar apa siswa dari topik yang di pelajari, bagaimana cara mempelajarinya, bukan hanya guru yang menetukan tetapi juga siswa

1.2.2    Siswa sebagai subjek belajar
Siswa tidak hanya di anggap sebagai organisme pasif yang hanya sebagai penerima informasi, akan tetapi di pandang sebagai organisme yang aktif yang memiliki potensi untuk berkembang.
1.2.3    Proses pembelajaran berlangsung di mana saja
Siswa dapat menggnakan berbagai tempat untuk belajar. Karena tempat juga sangat menunjang proses pembelajaran. Intinya pembelajaran bukan hanya di laksanakan di dalam kelas tetapi di laksanakan sesuai dengan keadaan.

1.2.4    Pembelajaran berorientasi pada pencapaian tujuan
Tujuan pembelajaran bukan hanya agar siswa menguasai materi pelajaran, tetapi lebih luas dari pada itu bahwa tujuan belajar adalah agar siswa merubah pola perilakunya menuju arah yang lebih baik.

2.         Pengertian mengajar
Menurut S Nasution (2000); Mengajar adalah suatu aktifitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadilah proses belajar.[2] Di katakan juga mengajar adalah menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar mengajar bagi siswa.[3]

3.         Perlunya perubahan paradigma tentang mengajar
Apakah mengajar sebagai proses menanamkan ilmu pengetahuan masih berlaku dalam abad teknologi sekarang ini ? Bagaimana seandainya pengajar tidak berhasil menanamkan pengetahuan kepada orang yang di ajarnya juga di anggap orang tersebut telah mengajar? Lalu, kalau begitu apa kriteria keberhasilan mengajar ? Apakah mengajar hanya di tentukan oleh seberapa besar pengetahuan yang telah di sampaikan ?
Pandangan mengajar yang hanya sebatas menyampaikan ilmu pengetahuan itu di anggap sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan. Hal itu dapat kita lihat dari tiga alasan penting. Alasan inilah yag kemudian menuntut perlu terjadinya perubahan paradigma mengajar, dari mengajar hanya sebatas menyampaikan materi pelajaran kepada mengajar sebagai proses mengatur lingkungan.
Pertama, siswa bukanlah orang dewasa dalam bentuk mini, tetapi mereka adalah organisme yang sedang berkembang. Guru tidak lagi memposisikan diri sebagai sumber belajar yang bertugas menyampaikan informasi, tetapi harus berperan sebagai pengelola sumber belajar untuk di manfaatkan siswa itu sendiri.
Kedua, Ledakan ilmu pengetahuan mengakibatkan kecenderungan setiap orang tidak mungkin dapat menguasai setiap cabang keilmuan. Belajar tidak hanya sekadar menghafal informasi, menghafal rumus-rumus, tetapi bagaimana menggunakan informasi dan pengetahuan itu untuk mengasah kemampuan berfikir.
Ketiga, penemuan-penemuan baru khususnya dalam bidang psikologi, mengakibatkan pemahaman baru tentang konsep perubahan tingkah laku manusia. Manusia pada hakikatnya memiliki potensi dan dengan dasar potensi itulah manusia bisa mengembangkan dirinya. Dengan kata lain bahwa siswa bukan lagi di jadikan objek pasif tetapi siswa harus aktif dalam melakukan kegiatan belajar[4].
Ketiga hal di atas menuntut perubahan makna dalam mengajar. Mengajar jangan di artikan sebagai proses menyampaikan materi pembelajaran, tetapi lebih di pandang sebagai proses mengatur lingkungan agar siswa belajar sesuai dengan kemampuan dan potensi yang di milikinya.

4.         Makna mengajar dalam Standar Proses Pendidikan
Mengajar dalam konteks standar proses pendidikan tidak hanya sekadar menyampaikan materi ajaran, akan tetapi juga di maknai sebagai proses mengatur lingkungan supaya siswa belajar. Makna lain yang demikian sering di istilahkan dalam pembelajaran. Hal ini mengisyaratkan bahwa dalam proses belajar siswa harus di jadikan pusat dari kegiatan. Hal ini di maksudkan untuk membentuk watak, peradaban dan peningkatan mutu kehidupan peserta didik. Pembelajaran perlu memberdayakan semua potensi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang di harapkan. Pemberdayaan di arahkan untuk mendorong pencapaian kompetensi dan perilaku khusus supaya setiap individu mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat dan mewujudkan masyarakat belajar.
Dalam imlementasinya, walaupun istilah yang di gunakan “pembelajaran”, tidak berarti guru menghilangkan perannya sebagai pengajar, sebab secara konseptual pada dasarnya mengajar itu juga bermakna membelajarkan siswa. Mengajar – belajar adalah dua istilah yang memiliki makna tidak dapat di pisahkan. Mengajar adalah suatu aktifitas yang dapat membuat siswa belajar. Keterkaitan antara belajar dan mengajar menurut Jhon dewey ( Wina sanjaya , 2009) adalah “teaching is to learning as selling and buying”[5].
Dalam konteks pembelajaran, sama sekali tidak berarti memperbesar peran siswa di satu pihak dan mengecilkan peran guru di pihak lain. Dalam istilah pembelajaran, guru tetap harus berperan secara optimal, demikian halnya dengan siswa. Perbedaan dominasi dan aktifitas di atas, hanya menunjukan kepada perbedaan tugas-tugas atau perlakuan guru dan siswa terhadap materi dan proses pembelajaran. Sebagai contoh, ketika guru menentukan proses belajar dengan menggunakan metode buzz group (diskusi kelompok kecil), yang lebih menekankan kepada aktifitas siswa maka tidak berarti peran guru mejadi kecil. Ia akan tetap di tuntut berperan secara optimal agar proses pembelajaran dengan metode itu bisa berjalan. Demikian juga ketika guru menggunakan pendekatan ekspositori dalam pembelajaran, tidak berarti peran siswa menjadi kecil. Mereka harus tetap berperan secara optimal dalam rangka menguasai dan memahami materi pelajaran yang di sampaikan oleh guru.
Dari uraian di atas, maka tampak jelas bahwa istilah pembelajaran itu menunjukan pada usaha siswa mempelajari bahan pelajaran sebagai akibat perlakuan guru. Di sini jelas, proses pembelajaran yang di lakukan siswa tidak mungkin terjadi tanpa perlakuan guru. Yang membedakannya hanya terletak pada peranannya saja.
Bruce well (1980) mengemukakan tiga prinsip penting dalam proses pembelajaran semacam ini. Antara lain :
  • Proses pembelajaran adalah membentuk kreasi lingkungan yang dapat membentuk atau mengubah struktur kognitif siswa
  • Berhubungan dengan tipe-tipe pengetahuan yang harus di pelajari
  • Dalam proses pembelajaran harus melibatkan peran lingkungan sosial

Dari berbagai penjelasan di atas, maka makna pembelajaran dalam konteks standar proses pendidikan di tunjukkan oleh beberapa ciri yang di jelaskan sebagai berikut :
  • Pembelajaran adalah proses berfikir
  • Proses pembelajaran adalah memanfaatkan potensi otak
  • Pembelajaran berlangsung sepanjang hayat

B. BELAJAR
1.Makna Belajar
Usaha pemahaman mengenai makna belajar ini akan di awali dengan mengemukakan beberapa definisi tentang belajar. Ada beberapa definisi tentang belajar, antara lain dapat di uraikan sebagai berikut :
  • Cronbach memberikan definisi : Learning is shown by a change in behavior as a result of experience[6]
  • Harold spears memberikan batasan : Learning is to observe , to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction.
  • Geoch mengatakan : Learning is a change in performance as a result of practice.

Dari ketiga definisi di atas maka dapat di terangkan bahwa belajar senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan, misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Juga belajar itu akan lebih baik kalau si subjek melakukan sesuatu, jadi tidak terkesan verbalistik.
Dapat Juga di lihat dari arti luas bahwa belajar adalah kegiatan psiko – fisik menuju kepada perkembangan yang seutuhnya. Dalam arti sempit dapat di katakan bahwa belajar adalah usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagaian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya[7].
Namun secara rinci belajar dapat di katakan tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.[8]

2.         Faktor- faktor yang mempengaruhi belajar
2.1.      Minat
Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu[9]. Minat mempengaruhi proses dan hasil belajar, tidak usah dipertanyakan kalau seseorang tidak berminat untuk mempelajari sesuatu maka cenderung tidak dapat diharapkan bahwa dia akan berhasil dengan baik dalam mempelajari hal tersebut. Sebaliknya kalau seseorang belajar dengan penuh minat, maka diharapkan bahwa hasilnya akan lebih baik.

2.2.      Kecerdasan
Telah menjadi hal yang cukup populer bahwa kecerdasan besar peranannya dalam berhasil dan tidaknya seseorang mempelajari sesuatu atau mengikuti sesuatu program pendidikan. Orang yang lebih cerdas pada umumnya akan lebih mampu belajar dari pada orang yang kurang cerdas di dalam lingkungan.

2.3.      Bakat
Bakat adalah suatu kemampuan manusia untuk melakukan suatu kegiatan dan sudah ada sejak manusia itu ada. Hal ini dekat dengan persoalan intelligensia yang merupakan struktur mental yang melahirkan “kemampuan” untuk memahami sesuatu.[10]
Hampir tidak ada orang yang membantah, bahwa belajar pada bidang yang sesuai dengan bakat memperbesar kemungkinan berhasilnya usaha itu. Akan tetapi banyak sekali hal-hal yang menghalangi untuk terciptanya kondisi yang sangat diinginkan oleh setiap orang. Dalam lingkup perguruan tinggi misalnya, tidak selalu perguruan tinggi tempat seorang belajar menjanjikan studi yang benar-benar sesuai dengan bakat orang tersebut.

2.4.      Motivasi
Motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu atau kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat.[11]. Jadi motivasi belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar.

2.5.      Kemampuan-kemampuan Kognitif
Kemampuan-kemampuan kognitif yang utama adalah persepsi, ingatan, dan berfikir. Kemampuan seseorang dalam melakukan persepsi, dalam mengingat, dan dalam berfikir besar pengaruhnya terhadap hasil belajar.


3.         Prinsip- prinsip belajar
Belajar itu sangat kompleks. Hal itu dapat di ketahui dari prinsip-prinsip belajar yang akan di paparkan sebagai berikut :
  • Agar seseorang benar-benar belajar maka ia harus memiliki suatu tujuan[12]
  • Tujuan itu harus timbul dari / atau berhubungan dengan kebutuhan hidupnya dan bukan karena paksaan orang lain
  • Orang itu harus bersedia mengalami bermacam- macam kesukaran dan berusaha dengan tekun untuk mencapai tujuan yang berharga baginya
  • Belajar itu harus terbukti dari perubahan perilakunya
  • Selain tujuan pokok yang hendak di capai, di perolehnya pula hasil-hasil sampingan. Misalnya ia tidak hanya bertambah terampil membuat soal-soal ilmu pengetahuan alam tetapi memiliki minat yang lebih untuk bidang studi itu.
  • Belajar lebih berhasil dengan jalan berbuat
  • Seseorang belajar secara keseluruhan
  • Dalam belajar seseorang memerlukan bimbingan dan bantuan dari orang lain
  • Untuk belajar di perlukan “Insight”[13]
  • Di samping mengejar tujuan belajar yang sebenarnya, seseorang juga ingin mencapai tujuan lain
  • Adanya kemauan dan hasrat.

4.         Arti penting belajar
4.1.      Arti penting belajar bagi perkembangan manusia
Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Di sebabkan oleh kemampuan berubah karena belajarlah maka manusia dapat berkembang lebih jauh dari pada makhluk-makhluk lainnya sehingga ia terbebas dari kemandegan fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi. Boleh jadi, karena kemampuan berkembang melalui belajar itu pula manusia secara bebas dapat mengeksploitasi , memilih dan menetapkan keputusan-keputusan penting bagi hidupnya.
Banyak sekali bentuk-bentuk perkembangan yang terdapat dalam diri manusia yang bergantung pada belajar, misalnya perkembangan kecakapan bicara.

4.2.      Arti penting belajar bagi kehidupan manusia
Belajar juga memainkan peran penting dalam mempertahankan sekelompok manusia di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat di antara bangsa-bangsa lainnya yang lebih dahulu maju karena belajar. Akibat persaingan tersebut, kenyataan tragis bisa pula terjadi karena belajar.
Meskipun ada dampak negatif dari belajar namun kegiatan belajar memiliki arti penting, bahwa belajar berfungsi sebagai alat mempertahankan kehidupan manusia. Bahkan di dalam Al-qur’an juga berkali –kali di tekankan agar manusia mau belajar, karena dengan belajar maka manusia bisa mengerti arti kebesaran Allah SWT.

5.         Teori-teori belajar
5.1       Teori Behaviorisme
Behaviorisme merupakan salah satu aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya :



5.1.1    Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike.
Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum - hukum belajar, diantaranya:
  • Law of Readiness; Hubungan antara stimulus dan respon akan mudah terbentuk manakala ada kesiapan dalam diri individu. [14]
  • Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering di pakai dan akan semakin berkurang apabila tidak di gunakan.[15]
  • Law of effect; Hukum ini menunjuk pada kuat atau lemahnya hubungan stimulus respon tergantung kepada akibat yang di timbulkannya.[16]

5.1.2.   Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
  • Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara stimulan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
  • Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.

5.1.3.  Operant Conditioning menurut B.F. Skinner
Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
  • Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
  • Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.

Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan[17]. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.

5.2       Teori Belajar Kognitif menurut Piaget
Pendekatan teori kognitif lebih menekankan pada arti penting proses internal[18]. Dikemukakan oleh Piaget bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.


5.3  Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.

5.4       Teori Belajar Gestalt
Teori ini berbeda dengan teori-teori terdahulu, menurut Teori gestalt belajar adalah proses mengembangkan insight. Insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan[19]. Menurut teori ini bahwa belajar bukanlah mengulang-ulang yang harus di pelajari, tetapi mengerti/ mendapatkan insight. [20]








KESIMPULAN

Belajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Mengajar adalah suatu aktifitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadilah proses belajar.
Belajar - Mengajar dalam konteks standar proses pendidikan tidak hanya sekadar menyampaikan materi ajaran dari guru saja. Makna lain yang demikian sering di istilahkan dalam pembelajaran. Hal ini mengisyaratkan bahwa dalam proses belajar siswa harus di jadikan pusat dari kegiatan. Hal ini di maksudkan untuk membentuk watak, peradaban dan peningkatan mutu kehidupan peserta didik. Pembelajaran perlu memberdayakan semua potensi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang di harapkan. Pemberdayaan di arahkan untuk mendorong pencapaian kompetensi dan perilaku khusus supaya setiap individu mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat dan mewujudkan masyarakat belajar.
Berdasarkan penjelasan di atas memang sudah saatnya kita mengubah paradigma pendidikan yang menggunakan pemahaman yang tradisional. Pada intinya Pendidikan harus bisa mengimbangkan peran guru dan siswa dalam proses pembelajaran









DAFTAR PUSTAKA



Hasibuan, J.J. 2000. Proses belajar mengajar. Bandung:  Remaja rosdakarya
Nasution, S. 2000. Didaktik asas-asas mengajar. Jakarta: Bumi aksara
Sanjaya, wina. 2009. Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan.
                        Jakarta: Kencana prenada media group
Sardiman, 2008. Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta: Raja grafindo
                        persada
Sudjana, nana. 1989. Dasar-dasar proses belajar mengajar. Bandung: Sinar baru
Suryabrata, sumadi. 2008. Psikologi pendidikan. Jakarta: Raja grafindo persada
Syah, muhibbin. 2008. Psikologi belajar. Jakarta: Raja grafindo persada
Walgito, bimo. 1992. Pengantar psikologi umum. Yogyakarta: Andi



[1] Drs. J.J.Hasibuan, Dip.Ed dan Drs. Moedjiono. Proses belajar mengajar. ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2000), hlm 37
[2] Prof. Dr. S Nasution,M.A. Didaktik asas-asas mengajar. (Jakarta: Bumi aksara, 2000), hlm. 4
[3] Sardiman A.M. Interaksi dan motivasi belajar mengajar. ( Jakarta : PT Raja grafindo persada, 2008 ), hlm.48
[4] Dr. Wina sanjaya,M.Pd. Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. (Jakarta: Kencana prenada media grup, 2009), hlm. 99
[5] Ibid, hlm.102
[6] Sardiman A.M. Interaksi dan motivasi belajar mengajar. ( Jakarta : PT Raja grafindo persada, 2008 ), hlm.20
[7] Ibid
[8] Muhibbin Syah, M.Ed. Psikologi belajar. (Jakarta : PT Raja grafindo persada, 2008 ), hlm. 68
[9] Ibid, hlm. 151
[10] Op. Cit. hlm. 46
[11] Prof. Dr. Bimo walgito. Pengantar psikologi umum. ( Yogyakarta: Andi, 1992), hlm. 168
[12] Prof. Dr. S Nasution, M.A. Didaktik asas-asas mengajar. (Jakarta : Bumi aksara, 2000), hlm. 46
[13] Ibid, hlm. 47
[14] Dr. Wina sanjaya,M.Pd. Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. (Jakarta: Kencana prenada media grup, 2009), hlm. 114
[15] Sardiman A.M. Interaksi dan motivasi belajar mengajar. ( Jakarta : PT Raja grafindo persada, 2008), hlm.20
[16] Op.Cit
[17] Muhibbin syah, M.Ed. Psikologi belajar. ( Jakarta: PT Raja grafindo persada, 2008), hlm.98
[18] Ibid, hlm. 103
[19] Dr. Wina sanjaya,M.Pd. Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. (Jakarta: Kencana prenada media grup, 2009), hlm. 118
[20] Drs. Sumardi suryabrata,B.A.,M.A.,Ed.S.,Ph.D.Psikologi Pendidikan. (Jakarta: PT Raja grafindo persada, 2008), hlm. 277

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar