Pages

Rabu, 07 November 2012

Active Learning


BAB I
PENDAHULUAN


Pembelajaran adalah suatu perbuatan yang kompleks (a highly complexion process). Disebut kompleks karena dituntut adanya kemampuan profesional, personal, dan sosio kultural secara terpadu dalam proses belajar- mengajar. Dikatakan kompleks juga karena mengandung unsur-unsur seni, ilmu, teknologi, pilihan nilai, dan keterampilan dalam proses belajar-mengajar. Segala bentuk kompleksitas tersebut harus diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan nasional.
Berdasarkan UU RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada pasal 3 dijelaskan bahwa:Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Untuk mencapai tujuan tersebut seharusnya guru menggunakan banyak pendekatan dalam proses pembelajaran. Pendekatan tersebut setidaknya mampu mendorong anak untuk berkreativitas dan mampu mengembangkan potensi anak. Oleh sebab itu dituntut seorang guru yang kreatif dan inovatif dalam mewujudkan lingkungan belajar yang menyenangkan.
Namun masih sangat sering dijumpai guru yang terus menerus menggunakan strategi pembelajaran konvensional untuk semua materi pembelajaran. Tentu saja hal ini tidak tepat. Harus ada perubahan ataupun kolaborasi berbagai strategi dan metode pembelajaran untuk membangkitkan minat siswa, salah satunya adalah active learning.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Active Learning
Lebih dari 2400 tahun yang lalu Confucius menyatakan:
Apa yang saya dengar, saya lupa
Apa yang saya lihat, saya ingat
Apa yang saya lakukan, saya paham
Mel Silberman memodifikasi dan memperluas pernyataan Confucius di atas menjadi apa yang disebutnya dengan belajar aktif (active learning), yaitu
Apa yang saya dengar, saya lupa
Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit
Apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman lain, saya mulai paham
Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan
Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya kuasai (Silberman, 2009:1)

Penambahan yang dilakukan oleh Siberman tentunya dilandasakan pada keadaan nyata di lapangan. Kebanyakan guru berbicara kurang lebih 100-200 kata per menit. Namun berapa banyak kata yang akan didengar siswa? Ini tergantung pada bagaimana mereka mendengarkan. Jika siswa benar-benar konsentrasi siswa akan mendengarkan antara 50-100 kata permenit atau setengah yang dikatakan guru. Untuk mensiasati permasalahan tersebut sudah seharusnya guru menggunakan strategi pembelajaran yang menyenangkan dan menempatkan siswa sebagai subjek aktif.
Menurut Richard M. Felder (2008:2), “Active learning is anything course-related that all students in a class session are called upon to do other than simply watching, listening and taking notes”. Menurut Daniel Bell and Jahna Kahrhoff (2006:1), “Active Learning is a process where in students are actively engaged in building understanding of facts, ideas, and skills through the completion of instructor directed tasks and activities”.

 
Active learning pada dasarnya merupakan salah satu bentuk atau jenis dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas peserta didik. Pembelajaran berorientasi pada aktivitas peserta didik mengandung pengertian bahwa sistem pembelajaran menempatkan peserta didik sebagai subyek didik yang aktif dan telah memiliki kesiapan untuk belajar. Dalam pandangan psikologi modern belajar bukanlah sekedar menghafalkan sejumlah fakta atau informasi, akan tetapi merupakan peristiwa mental dan proses berpengalaman. Oleh karena itu, setiap peristiwa pembelajaran menuntut keterlibatan intelektual-emosional peserta didik melalui asimilasi dan akomodasi kognitif untuk mengembangkan pengetahuan, tindakan serta pengalaman langsung dalam rangka membentuk keterampilan (kognitif, motorik, dan sosial), penghayatan serta internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap. 
Tingkatan di atas dapat dijadikan bahan pertimbangan dan alasan untuk menerapkan strategi pembelajaran active learning dalam pembelajaran di kelas. Selain itu beberapa hasil penelitian yang ada menganjurkan agar anak didik tidak hanya sekedar mendengarkan saja di dalam kelas. Mereka perlu membaca, menulis, berdiskusi atau bersama-sama dengan anggota kelas yang lain dalam memecahkan masalah. Yang paling penting adalah bagaimana membuat anak didik menjadi aktif, sehingga mampu pula mengerjakan tugas-tugas yang menggunakan kemampuan berpikir yang lebih tinggi, seperti menganalisis, membuat sintesis dan mengevaluasi. Dalam konteks ini, maka ditawarkanlah strategi-strategi yang berhubungan dengan belajar aktif. Dalam arti kata menggunakan teknik active learning di kelas menjadi sangat penting karena memiliki pengaruh yang besar terhadap belajar siswa.
Ciri pembelajaran ALIS (Active Learning in School) dalam Hamzah dan Nurdin (2011), adalah sebagai berikut:
1.      Pembelajaran berpusat pada siswa
2.      Pembelajaran terkait dengan kehidupan nyata
3.      Pembelajaran mendorong anak untuk berpikir tingkat tinggi
4.      Pembelajaran melayani gaya belajar yang berbeda-beda
5.      Pembelajaran mendorong anak untuk berinteraksi multiarah
6.      Pembelajaran menggunakan lingkungan sebagai media atau sumber belajar
7.      Pembelajaran berpusat pada anak
8.      Penataan lingkungan belajar memudahkan siswa untuk melakukan kegiatan belajar
9.      Guru memantau proses belajar siswa
10.  Guru memberikan umpan balik terhadap hasil kerja anak

Garman and Piantanida (1996:12 ) setidaknya ada beberapa kategori pembelajaran aktif, yakni “Physical Activities, Play, Academic Tasks, Experiential Activities”.

B.     Pentingnya Active Learning
Dalam kegiatan pembelajaran peserta didik dituntut untuk lebih dari sekedar mendengarkan. Peserta didik harus membaca, menulis, berdiskusi, atau terlibat dalam pemecahan masalah. Untuk terlibat secara aktif, peserta didik harus terlibat dalam kegiatan berpikir yang lebih tinggi seperti menganalisis, mensisntesis, dan mengevaluasi. Untuk itu active learning harus dipilih sebagai pendekatan agar peserta didik dapat melakukan kegiatan-kegiatan belajar serta memikirkan apa yang  dilakukannya untuk belajar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa active learning merupakan teknik mengajar yang efektif. Dibandingkan dengan metode mengajar tradisional seperti ceramah, peserta didik akan belajar lebih banyak materi, dapat menyimpan informasi lebih lama, dan lebih dapat menyukai kondisi kelas. Active learning memungkinkan peserta didik untuk belajar dalam kelas dengan bantuan pendidik serta peserta didik lainnya.
Untuk menerapkan active learning pendidik harus melaksanakan hal berikut:
  1. Memanfaatkan sumber belajar di lingkungannya secara optimal dalam proses pembelajaran
  2. Berkreasi dan mengembangkan ide/gagasan baru
  3. Mengurangi kesenjangan pengetahuan yang diperoleh peserta didik di sekolah dengan pengetahuan yang diperoleh dari masyarakat
  4. Memperjelas relevansi dan keterkaitan mata kuliah/mata pelajaran bidang ilmu dengan kebutuhan sehari-hari dalam masyarakat
  5. Mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku peserta didik secara bertahap dan utuh
  6. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk dapat berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuannya
  7. Menerapkan prinsip-prinsip belajar aktif
C.    Penerapan Active Learning
Penerapan active learning dapat diterapkan melalui banyak metode. Berikut akan dijelaskan beberapa di antaranya:
a.       True or False (Benar atau salah)
Metode ini merupakan aktifitas kolaboratif yang mengajak siswa untuk terlibat ke dalam materi secara langsung. Metode ini meminta kepada siswa untuk menyatakan benar atau salah atas pernyataan yang ditulis oleh guru pada masing-masing kartu. 
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1)   Guru membuat list pernyataan yang berhubungan dengan materi pelajaran, separuhnya benar dan separuhnya lagi salah. Masing-masing pernyataan ditulis pada selembar kertas yang berbeda. Jumlah lembar pernyataan disesuaikan dengan jumlah siswa.
2)   Guru memberi setiap siswa satu kertas kemudian mereka diminta untuk menentukan benar atau salah pernyataan tersebut. Selanjutnya guru menjelaskan bahwa masing-masing dari mereka bebas menggunakan cara apa saja untuk menentukan jawaban.
3)   Setelah selesai, guru meminta siswa membaca masing-masing pernyataan dan meminta jawaban dari mereka benar atau salah.
4)   Guru memberi masukan untuk setiap jawaban dan menegaskan bahwa yang dilakukan oleh siswa adalah bekerja bersama.
5)   Guru menekankan kepada siswa bahwa kerja sama dalam kelompok akan membantu kelas

b.      Guided Teaching (Pembelajaran terbimbing)
Metode ini merupakan aktifitas untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa atau untuk memperoleh hipotesa. Metode ini meminta kepada siswa untuk membandingkan antara jawaban mereka dengan materi yang telah disampaikan oleh guru.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1)   Guru menyampaikan beberapa pertanyaan kepada siswa untuk mengetahui pikiran dan kemampuan yang mereka miliki.
2)   Guru memberi kesempatan beberapa menit kepada siswa untuk menjawab pertanyaan dengan meminta mereka untuk bekerja berdua atau dalam kelompok kecil.
3)   Guru meminta siswa menyampaikan hasil jawaban mereka, kemudian guru mencatat jawaban-jawaban mereka.
4)   Guru menyampaikan poin-poin utama dari materi, kemudian meminta siswa untuk membandingkan jawaban mereka dengan poin-poin yang telah disampaikan. Setelah itu, guru mencatat poin-poin yang dapat memperluas bahasan materi

c.       Card Sort (Cari Kawan)
Metode ini merupakan aktifitas kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, karakteristik klasifikasi, fakta tentang objek atau mereview informasi. Metode ini meminta kepada masing-masing kelompok siswa untuk mempresentasikan isi kartu yang ada di kelompoknya.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1)   Guru membagi kertas yang berisi informasi kepada setiap siswa.
2)   Guru meminta siswa untuk bergerak dan berkeliling di dalam kelas untuk menemukan kartu yang kategorinya sama.
3)   Guru meminta siswa mempresentasikan kategori masing-masing di depan kelas.
4)   Guru memberikan poin-poin penting terkait dengan bahan materi

d.      The Power of Two (Gabungan Dua Kekuatan)
Metode ini merupakan aktifitas pembelajaran yang digunakan untuk mendorong pembelajaran kooperatif dan memperkuat pentingnya serta manfaat sinergi. Metode ini meminta kepada siswa untuk menjawab pertanyaan dari guru secara individual, kemudian melakukan sharing bersama seorang siswa di sebelahnya. 
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1)   Guru mengajukan satu atau dua pertanyaan kepada siswa yang menuntut perenungan dan pemikiran.
2)   Guru meminta setiap siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara individual.
3)   Setelah selesai, guru meminta mereka untuk berpasangan dan saling bertukar jawaban dan membahasnya.
4)   Guru meminta pasangan-pasangan tersebut membuat jawaban baru atas pertanyaan dan memperbaiki jawaban indiviual mereka.
5)   Kemudian guru membandingkan jawaban-jawaban mereka

e.       Rotating Roles (Permainan Bergilir)
Metode ini merupakan aktifitas yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih kecakapan dalam bermain peran terhadap situasi kehidupan nyata. Metode ini meminta kepada siswa untuk membuat skenario kehidupan yang nyata berkaitan dengan materi yang sedang didiskusikan. 
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1)   Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari tiga siswa.
2)   Guru memerintahkan setiap kelompok membuat tiga skenario kehidupan nyata yang berkaitan dengan topik diskusi.
3)   Kemudian guru meminta satu anggota dari setiap kelompok untuk menyampaikan skenario kepada kelompok lain. Selanjutnya, setiap tim mempunyai kesempatan untuk latihan peran utama, dan dalam skenario tersebut guru konsentrasi pada identifikasi pelaku utama dalam penggunaan konsep dan kecakapan serta bagaimana pengembangannya.
4)   Setelah selesai, guru mengumpulkan seluruh kelompok untuk diskusi umum dari poin-poin belajar skenario dan nilai aktifitas di dalamnya

f.       Trading place
Metode ini memungkinkan peserta didik lebih mengenal, tukar menukar pendapat dan mempertimbangkan gagasan, nilai atau pemecahan baru terhadap berbagai masalah.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1)        Beri peserta didik satu atau lebih catatan-catatan Post-it (tentukan apakah kegiatan tersebut akan berjalan lebih baik dengan membatasi para peserta didik terhadap sebuah atau beberapa kontribusi)
2)        Mintalah mereka untuk menulis dalam catatan merea salah satu dari hal berikut:
a.    sebuah nilai yang mereka pegang
b.    sebuah pengalaman yang telah mereka miliki saat ini
c.    sebuah ide atau solusi kreatif terhadap sebuah problema yang telah anda tentukan
d.   sebuah pertanyaan yang mereka miliki mengenai persoalan dari mata pelajaran
e.    sebuah opini yang mereka pegang tentang sebuah topik pilihan anda
f.     sebuah fakta tentang mereka sendiri atau persoalan pelajaran
3)        Mintalah peseta didik menaruh (menempelkan) catatan tersebut pada pakaian mereka dan mengelilingi ruangan dengan atau sambil membaca tiap catatan milik peserta yang lain
4)        Kemudian, suruhlah para peserta didik berkumpul sekali lagi dan mengasosiasikan sebuah pertukaran catatan-catatan yang telah diletakkan pada tempatnya (trade of Post-it notes) satu sama lain. Pertukaran itu hendaknya didasarkan pada sebuah keinginan untuk memiliki sebuah nilai, pengalaman, ide, pertanyaan, opini atau fakta tertentu dalam waktu yang singkat. Buatlah aturan bahwa semua pertukaran harus menjadi dua jalan. Doronglah peserta didik untuk membuat sebanyak mungkin pertukaran yang mereka sukai.
5)        Kumpulkan kembali kelas tersebut dan mintalah para peserta didik berbagi pertukaran apa yang mereka buat dan mengapa demikian. (misalnya : Mita : “Saya menukar catatan dengan Sonya karena dia telah membuat catatan tentang perjalanan ke Eropa Timur. Saya menyukai perjalanan ke sana karena saya mempunyai nenek moyang yang berasal dari Hongaria dan Ukraina

g.      TV Komersial
Metode ini dapat menghasilkan pembangunan team (team building) yang cepat
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1)        Bagilah peserta didik ke dalam team yang tidak lebih dari 6 anggota
2)        Mintalah team-team membuat iklan TV 30 detik yang mengiklankan masalah pelajaran dengan menekankan nilainya bagi meraka atau bagi dunia
3)        Iklan hendaknya berisi sebuah slogan (sebagai contoh “Lebih baik hidup dengan ilmu Kimia”) dan visual (misalnya, produk-produk kimia terkenal)
4)        Jelaskan bahwa konsep umum dan sebuah outline dari iklan tersebut sesuai. Namun jika team ingin memerankan iklannya, hal tersebut baik juga.
5)        Sebelum masing-masing team mulai merencanakan iklannya, maka diskusikan karakteristik dari beberapa iklan yang saat ini terkenal untuk merangsang kreatifitas (misalnya penggunaan sebuah kepribadian terkenal, humor, perbandingan terhadap persaingan, daya tarik sex)
6)        Mintalah masing-masing team menyampaikan ide-idenya. Pujilah kreatifitas setiap orang.

h.      The Company You Keep
Metode ini digunakan untuk membantu siswa sejak awal agar lebih mengenal satu sama lain aktivitas kelas bergerak dengan cepat dan amat menyenangkan.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1)        buatlah datar kategori yang anda pikir mungkin tepat dalam sebuah kegiatan untuk lebih mengenal pelajaran yang anda ajar. Kategori-kategori tersebut meliputi :
a.    Bulan kelahiran
b.    Orang yang suka atau tidak suka suatu objek
c.    Kesukaan seseorang
d.   Tangan yang digunakan untuk menulis
e.    Warna sepatu
f.     Setuju atau tidak dengan beberapa pernyataan opini tentang sebuah isi hangat (misalnya “Jaminan pemeliharaan kesehatan hendaknya bersifat universal”) Catatan: Kategori dapat pula dikaitkan langsung dengan materi pelajaran yang diajarkan
2)        Bersihkan ruang lantai agar peserta didik dapat berkeliling dengan bebas
3)        Sebutkan sebuah kategori. Arahkan para peserta didik untuk menentukan secepat mungkin semua orang yang akan mereka kaitkan dengan kategori yang ada. Misal para penulis dengan tangan kanan dan penulis dengan tangan kiri akan terpisah menjadi dua bagian.
4)        Ketika para peserta didik telah membentuk kelompok-kelompok yang tepat, mintalah mereka berjabatan tangan dengan teman yang mereka jaga. Ajaklah semua untuk mengamati dengan tepat berapa banyak orang yang ada di dalam kelompok-kelompok yang berbeda.
5)        Lanjutkan segera pada kategori berikutnya. Jagalah peserta didik tetap bergerak dari kelompok ke kelompok ketika anda mengumumkan kategori-kategori baru.
6)        Kumpulkan kembali seluruh kelas. Diskusikan perbedaan peserta didik yang muncul dari latihan itu.

Metode di atas hanya sebagian kecil penerapan strategi active learning, pada intinya pembelajaran yang dilaksanakan harus menjadikan siswa sebagai subjek belajar, bukan objek belajar.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pembelajaran “active learning” pada dasarnya merupakan salah satu bentuk atau jenis dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas peserta didik. Pembelajaran berorientasi pada aktivitas peserta didik mengandung pengertian bahwa sistem pembelajaran menempatkan peserta didik sebagai subyek didik yang aktif dan telah memiliki kesiapan untuk belajar.
Pentingnya active learning berangkat dari asumsi bahwa peserta didik harus membaca, menulis, berdiskusi, atau terlibat dalam pemecahan masalah. Untuk terlibat secara aktif, peserta didik harus terlibat dalam kegiatan berpikir yang lebih tinggi seperti menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi. Kesemua kegiatan tersebut menuntut siswa untuk aktif bukan pasif.
Metode yang dapat digunakan dalam menerapkan active learning cukup banyak, pada makalah disajikan 9 metode di antaranya: True or False (Benar atau salah), Guided Teaching (Pembelajaran terbimbing), Card Sort (Cari Kawan), The Power of Two (Gabungan Dua Kekuatan), Rotating Roles (Permainan Bergilir), Trading place, TV Komersial dan The Company You Keep

B.     Saran
Kepada pembaca untuk terus meningkatkan pemahaman, wawasan dan kompetensi yang berkaitan dengan strategi pembelajaran aktif. Kompetensi yang diperoleh dapat pembaca terapkan ketika memberikan layanan bimbingan dan konseling di sekolah maupun ketika memberikan perkuliahan di perguruan tinggi.



DAFTAR REFERENSI


Ali Muhtadi. Implementasi Konsep Pembelajaran “Active Learning” Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Keaktifan Mahasiswa Dalam Perkuliahan. Yogyakarta. UNY. [Online]. Tersedia. staff.uny.ac.id/.../13.... [11-10-2012]

Garman, Noreen B & Piantanida, Maria. 1996. Introduction To Active Learning A Module For Educators. Pittsburgh. University of Pittsburgh. [Online]. Tersedia. www.pitt.edu/~ginie/.../pdf/active_learning.pdf [11-10-2012]

Hamzah B Uno & Nurdin Mohamad. 2011. Belajar dengan Pendekatan PAILKEM. Jakarta. Bumi Aksara.

Richard M. Felder, Rebecca Brent. 2008. Active Learning: An Introduction. North Carolina. North Carolina State University. [Online]. Tersedia. www4.ncsu.edu/unity/.../ALpaper(ASQ).pdf [11-10-2012]

Sanjaya, W. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta. Kencana.

Silberman, Mel. 2009. Active Learning (terjemahan oleh Sarjuli, dkk).. Yogyakarta. Pustaka Insan Madani.

T.M.A. Ari Samadhi. Pembelajaran Aktif (Active Learning). Jakarta. TIW. [Online]. Tersedia. uripsantoso.files.wordpress.com/2011/06/active-learning_52.pdf [11-10-2012]




2 komentar:

  1. Assalamualaikun. Mohon info untuk mencari buku active learning penulis Mel. Silberman dimna ya???

    BalasHapus
  2. Did you know there's a 12 word sentence you can speak to your partner... that will induce deep emotions of love and instinctual appeal to you deep within his heart?

    That's because deep inside these 12 words is a "secret signal" that triggers a man's impulse to love, please and care for you with all his heart...

    12 Words Will Trigger A Man's Desire Response

    This impulse is so hardwired into a man's mind that it will make him work harder than before to to be the best lover he can be.

    As a matter of fact, triggering this mighty impulse is absolutely binding to having the best ever relationship with your man that once you send your man one of the "Secret Signals"...

    ...You'll instantly notice him open his heart and soul for you in a way he haven't expressed before and he will see you as the one and only woman in the universe who has ever truly interested him.

    BalasHapus