Pages

Sabtu, 09 April 2011

KEPEMIMPINAN DALAM PERUSAHAAN

 


 

KEPEMIMPINAN DALAM PERUSAHAAN




logo uin baru hp
 









Oleh:

Eko Sujadi
Siti Salamah
Marlinda




UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM/BK/VI/B
1432 H / 2011 M


BAB I
PENDAHULUAN



Perusahaan merupakan sebuah organisasi yang di pimpin oleh pemimpin yang di dalam manajemen di sebut dengan manajer. Seorang pemimpin di dalam perusahaan harus memiliki sifat-sifat kepemimpinan. Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan untuk menggerakan orang lain dalam mencapai tujuan yang ingin di capai. Sifat-sifat kepemimpinan yang baik belum tentu di miliki oleh semua pemimpin, seorang pemimpin hendaknya menyesuaikan gaya kepemimpinan yang di anutnya dengan keadaan karyawan.
Akhir-akhir ini banyak orang membicarakan masalah krisis kepemimpinan. Konon sangat sullt mencari kader-kader pemimpin pada berbagai tingkatan. Orang pada zaman sekarang cenderung mementingkan diri sendiri dan tidak atau kurang perduli pada kepentingan orang lain, kepentingan lingkungannya.

Krisis kepemimpinan ini disebabkan karena makin langkanya keperdulian pada kepentingan orang banyak, kepentingan lingkungannya. Sekurang-kurangnya terlihat ada dua masalah mendasar yang menandai kekurangan ini. Pertama adanya krisis komitmen. Kedua, adanya krisis kredibilitas. Sangat sulit mencari pemimpin atau kader pemimpin yang mampu menegakkan kredibilitas tanggung jawab.
Agar permasalahan-permasalahan di atas dapat teratasi maka penting bagi seorang pemimpin untuk mengetahui bagaimana konsep dasar dari kepemimpinan sehingga pemimpin bisa menerapkan pola-pola kepemimpinan yang sesuai di dalam perusahaannya.

BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Kepemimpinan
 Banyak ahli yang berusaha mendefinisikan kepemimpinan. Ada yang mengartikan kepemimpinan di pandang dari segi perilaku dan kemampuan dan ada pula yang mendefinisikan kepemimpinan sama dengan definisi pemimpin. Seperti pendapat J Riberu bahwa kepemimpinan adalah orang atau kelompok orang yang memimpin.[1] Kepemimpinan merupakan suatu hal yang seharusnya dimiliki oleh setiap pemimpin organisasi. Efektivitas seorang pemimpin ditentukan oleh kepiawaiannya mempengaruhi dan mengarahkan para anggotanya.
Kepemimpinan mneurut Stephen P Robbins adalah kemampuan untuk mempengaruhi kelompok menuju pencapaian sasaran.[2] Menurut Hempphill dan coons, bahwa kepemimpinan adalah perilaku individu … yang mengarahkan aktivitas kelompok untuk mencapai sasaran tertentu. Menurut D Katz dan kahn, kepemimpinan adalah pengaruh tambahan yang melebihi dan berada di atas kebutuhan mekanis dalam mengarahkan organisasi secara rutin. House et. Al, kepemimpinan adalah kemampuan individu untuk mempengaruhi, memotivasi, dan membuat orang lain, mampu memberikan kontribusinya demi efektifitas dan keberhasilan organisasi[3].
Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain.[4] Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Sedangkan kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan apa yang diinginkan pihak lainnya.”The art of influencing and directing meaninsuch away to abatain their willing obedience, confidence, respect, and loyal cooperation in order to accomplish the mission”. Kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi dan menggerakkan orang - orang sedemikian rupa untuk memperoleh kepatuhan, kepercayaan, respek, dan kerjasama secara royal untuk menyelesaikan tugas.
B. Gaya Kepemimpinan
 Gaya kepemimpinan, pada dasarnya mengandung pengertian sebagai suatu perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin, yang menyangkut kemampuannya dalam memimpin. Perwujudan tersebut biasanya membentuk suatu pola atau bentuk tertentu. Ada beberapa gaya kepemimpinan yakni:
1. Otoriter / Authoritarian
Adalah gaya pemimpin yang memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Segala pembagian tugas dan tanggung jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter tersebut,sedangkan para bawahan hanya melaksanakan tugas yang telah diberikan. Ciri-cirinya antara lain:
a.       Dalam menegakan disiplin menunjukan kekakuan
b.      Bernada keras dalam memberikan perintah atau intruksi
c.       Menggunakan pendekatan punitive dalam hal terjadinya penyimpangan oleh bawahan[5].

2. Militeristik
Seorang pemimpin yang bertipe militeristik adalah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut :
a.       Dalam menggerakan bawahannya lebih cenderung menggunakan system perintah.[6]
b.      Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya;
c.       Senang pada normalitas yang berlebih-lebihan;
d.      Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan;
e.       Sukar menerima kritikan dari bawahannya;
f.       Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.

3. Paternalistik
Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut :
a.       Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa dan perlu di kembangkan.[7]
b.      Bersikap terlalu melindungi (overly protective);
c.       Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan;
d.      Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif;
e.       Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya;
f.       Sering bersikap maha tahu.

4. Kharismatik
Kharisma adalah kualitas special dari pemimpin yang tujuannya, kekuasaannya, dan ketegasannya berbeda dari pemimpin lain. [8]Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki kharisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya yang sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu.

5. Demokratis
Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya. Ciri-cirinya antara lain:
a.       Senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya;
b.      Selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan team work dalam usaha mencapai tujuan;
c.       Ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki
d.      Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya;
e.       Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
Penulis menyimpulkan bahwa gaya kepemimpinan ini sama dengan gaya kepemimpinan partisipatif namun berbeda dalam penggunaan istilah. Gaya kepemimpin pertisipatif yakni kepemimpinan dengan gaya yang selalu mengajak secara terbuka para anggotanya untuk berpartisipasi atau ambil bagian, baik secara luas ataupun dalam batas-batas tertentu, dalam pengambilan keputuasan, perumusan kebijakan, dan metode operasionalnya[9].


C. Teori Kepemimpinan
Di bawah ini merupakan teori mengenai kepemimpinan, antara lain:
1. Teori Genetie
Inti dari teori ini tersimpul dalam mengadakan "leaders are born and not made". bahwa penganut teori ini mengatakan bahwa seorang pemimpin akan karena ia telah dilahirkan dengan bakat pemimpin.Dalam keadaan bagaimana pun seorang ditempatkan pada suatu waktu ia akn menjadi pemimpin karena ia dilahirkan untuk itu. Artinya takdir telah menetapkan ia menjadi pemimpin.
2. Teori Sosial
Jika teori genetis mengatakan bahwa "leaders are born and not made", make penganut-penganut sosial mengatakan sebaliknya yaitu : "Leaders are made and not born". Penganut-penganut teori ini berpendapat bahwa setiap orang akan dapat menjadi pemimpin apabila diberi pendidikan dan kesempatan untuk itu.
3. Teori Ekologis
Teori ini merupakan penyempurnaan dari kedua teori genetis dan teori sosial. Penganut-ponganut teori ini berpendapat bahwa seseorang hanya dapat menjadi pemimpin yang baik apabila pada waktu lahirnya telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan, bakat mana kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pangalaman-pengalaman yang memungkinkannya untuk mengembangkan lebih lanjut bakat-bakat yang memang telah dimilikinya itu.
Teori ini menggabungkan segi-segi positif dari kedua teori genetis dan teori sosial dan dapat dikatakan teori yang paling baik dari teori-teori kepemimpinan.Namun demikian penyelidikan yang jauh yang lebih mendalam masih diperlukan untuk dapat mengatakan secara pasti apa faktor-faktor yang menyebabkan seseorang timbul sebagai pemimpin yang baik.


D. Fungsi Kepemimpinan
 Fungsi kepemimpinan menurut Kartini Kartono adalah memandu, menuntun, membimbing, membangun, member atau membangunkan motivasi kerja, mengemudikan organisasi, menjalin jaringan-jaringan komunikasi yang baik, memberikan supervise yang efisien.[10] Di bawah ini akan di paparkan beberapa fungsi kepemimpinan.
1. Fungsi Instruktif
Fungsi ini berlangsung dan bersifat komunikasi satu arah. Pemimpin sebagai pengambil keputusan berfungsi memerintahkan pelaksanaanya pada orang-orang yang dipimpinnya.
Fungsi ini berarti juga keputusan yang ditetapkan tidak akan ada artinya tanpa kemampuan mewujudkan atau menterjemahkannyamenjadi instruksi/perintah. Selanjutnya perintah tidak akan ada artinya jika tidak dilaksanakan. Oleh karena itu  sejalan dengan pengertian kepemimpinan, intinya adalah kemampuan pimpinan menggerakkan orang lain agar melaksanakan perintah, yang bersumber dari keputusan yang telah ditetapkan.
2. Fungsi Konsultatif
Fungsi ini berlansung dan bersifat komunikasi dua arah , meliputi pelaksanaannya sangat tergantung pada pihak pimpinan. Pada tahap pertama dalam usaha menetapkan keputusan, pemimpin kerap kali memerlukan bahan pertimbangan, yang mengharuskannya berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya. Konsultasi itu dapat dilakukan secara terbatas hanya dengan orang-orang tertentu saja, yang dinilainya mempunyai berbagai bahan informasi yang diperlukannya dalam menetapkan keputusan.
Tahap berikutnya konsultasi dari pimpinan pada orang-orang yang dipimpin dapat dilakukan setelah keputusan ditetapkan dan sedang dalam pelaksanaan. Konsultasi itu dimaksudkan untuk memperoleh masukan berupa impan balik (feed Back) yang dapat dipergunakan untuk memperbaiki dan menyempurnakan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan dan dilaksanakan.
Dengan menjalankan fungsi konsultatif dapat diharapkan keputusan pimpinan, akan mendapat dukungan dan lebih mudah menginstruksikannya, sehingga kepemimpinan berlansung efektif. Fungsi konsultatif ini mengharuskan pimpinan belajar menjadi pendengar yang baik, yang biasanya tidak mudah melaksanakannya, mengingat pemimpin lebih banyak menjalankan peranan sebagai pihak yang didengarkan. Untuk itu pemimpin harus meyakinkan dirinya bahwa dari siapa pun juga selalu mungkin diperoleh gagasan, aspirasi, saran yang konstruktif bagi pengembangan kepemimpinanya.
3. Fungsi Partisipasi
Fungsi ini tidak sekedar berlangsung dan bersifat dua arah, tetapi juga berwujud pelaksanaan hubungan manusia yang efektif, antara pemimpin dengan sesama orang yang dipimpinnya, baik dalam keikutsertaan mengambil keputusan maupun dalam melaksanakannya.
Fungsi partisipasi hanya akan terwujud jika pemimpin mengembangkan komunikasi yang memungkinkan terjadinya pertukaran pendapat, gagasan dan pandangan dalam memecahkan masalah-masalah, yang bagi pimpinan akan dapat dimanfaatkan untuk mengambil keputusan-keputusan.sehubungan dengan itu musyawarah menjadi penting, baik yang dilakukan melalui rapat-rapat mapun saling mengunjungi pada setiap kesempatan yang ada.musyawarah sebagai kesempatan berpartisipasi, harus dilanjutkan berupa partisipasi  dalam berbagai kegiatan melaksanakan program organisasi.
4. Fungsi Delegasi
Fungsi ini dilaksanakan dengan memberikan limpahan wewenang membuat/menetapkan keputusan, baik melalui persetujuan maupun tanpa persetujuan dari pimpinan. Fungsi ini mengharuskan pemimpin memilah-milah tugas pokok organisasi dan mengevaluasi yang dapat dan tidak dapat dilimpahkan pada orang-orang yang dipercayainya. Fungsi delegasi pada dasarnya berarti kepercayaan, pemimpin harus bersedia dapat mempercayai orang-orang lain, sesuai dengan posisi/jabatannya, apabila diberi pelimpahan wewenang. Sedang penerima delegasi harus mampu memelihara kepercayaan itu, dengan melaksanakannya secara bertanggung jawab.
Fungsi pendelegasian harus diwujudkan seorang pemimpin karena kemajuan dan perkembangan kelompoknya tidak mungkin diwujudkannya sendiri. Pemimpin seorang diri tidak akan dapat berbuat banyak dan bahkan mungkin tidak ada artinya sama sekali. Oleh karena itu sebagian wewenangnya perlu didelegasikan pada para pembantunya, agar dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.
5. Fungsi Pengendalian
Fungsi  pengendalian     merupakan  fungsi kontrol. Fungsi ini cenderung bersifat satu arah, meskipun tidak mustahil untuk dilakukan dengan cara komunikasi secara dua arah. Fungsi pengendalian  bermaksud  bahwa kepemimpinan   yang       sukses  atau efektif mampu mengatur aktivitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Sehubungan dengan itu berarti fungsi pengendalian dapat diwujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan pengawasan. Dalam kegiatan tersebut pemimpin harus aktif, namun tidak mustahil untuk dilakukan dengan mengikutsertakan anggota kelompok/organisasinya.
E. Kepemimpinan di dalam Perusahaan
Perusahaan dapat di katakana juga sebagai suatu organisasi yang di dalamnya terdapat struktur kerja. Gaya Kepemimpinan yang di tampilkan di dalam organisasi secara umum juga di tampilkan di dalam organisasi di dalam perusahaan. Teori-teori kepemimpinan yang ada juga dapat di aplikasikan di dalam organisasi perusahaan. Namun yang menjadi focus utama adalah bagaimana Kepemimpinan seorang Pemimpin di dalam perusahaan mampu menggerakan para karyawan untuk gigih dalam mencapai tujuan perusahaan. Kepemimpinan yang di tunjukan oleh pemimpin di dalam perusahaan juga harus berorientasi pada kepuasan kerja karyawan.
Perilaku atasan juga merupakan determinan utama dari kepuasan. Umumnya kepuasan dapat ditingkatkan, bila atasan bersifat ramah dan memahami, menawarkan pujian untuk kinerja yang baik, mendengarkan pendapat karyawan, dan menunjukkan suatu minat pribadi pada mereka.
Partisipasi dalam pengambilan keputusan kepemimpinan khususnya pada kepemimpinan demokratis akan mempunyai dampak pada peningkatan hubungan manajer dengan bawahan, menaikkan moral dan kepuasan kerja serta menurunkan ketergantungan terhadap pemimpin. Dengan demikian dapat dikatakan kepemimpinan sangat erat hubungannya dengan kepuasan kerja karyawan. Kepemimpinan yang memperoleh respon positif dari karyawan cenderung akan meningkatkan kepuasan kerja karyawan, demikian bila terjadi sebaliknya.
Selain itu di era yang penuh dengan konflik seperti saat sekarang ini sudah sewajarnya bahwa pemimpin menggunakan gaya kepemimpinan yang di sesuaikan dengan keadaan karyawan agar dapat terhindar dari konflik-konflik antara pimpinan dan karyawan. Sebagai contoh banyak karyawan yang tidak memiliki kepuasan kerja dan pada akhirnya keluar dari perusahaan karena tidak sesuai dengan gaya kepemimpinan yang di tampillkan oleh pemimpin.
Walaupun demikian bukan berarti seorang pemimpin di dalam perusahaan selalu bersikap lembut terhadap bawahannya dalam artian selalu mengalah. Segala macam Gaya kepemimpinan yang di terapkan oleh pemimpin jangan sampai menghilangkan kewibawaan dan kediriannya sebagai seorang pemimpin. Pemimpin yang selalu bertindak lemah di hadapan karyawannya maka akan selalu di pandah lemah oleh karyawannya.
Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan yang berkenaan dengan kepemimpinan adalah dengan berpedoman pada hubungan industrial pancasila. Hubungan industrial pancasila merupakan hubungan yang terbentuk antara karyawan, pemerintah, pengusaha dan hubungannya dengan kegiatan operasional perusahaan dalam menghasilkan barang atau jasa yang didasarkan oleh sila-sila pancasila dan UUD 1945 sesuai dengan kepribadian dan kebudayaan timur khususnya bangsa Indonesia.
Dalam pelaksanaannya, hubungan industrial pancasila mempunyai dua asas yang sangat penting yaitu:
1.      Asas kekeluargaan dan gotong royong.
2.      Asas musyawarah untuk mencapai mufakat.
Dengan pemaparan di atas maka dapat di ketahui bahwa alangkah baiknya jika seorang pemimpin di dalam perusahaan mau mendengarkan segala aspirasi dan masukan dari karyawannya untuk mencapai tujuan terbaik.



BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
Kepempimpinan merupakan suatu kemampuan pemimpin untuk mengarahkan orang dalam mencapai suatu tujuan. Ada beberapa gaya kepemimpinan antara lain Otoriter / Authoritarian, Militeristik, Paternalistik, Kharismatik, dan Demokratis. Kepemimpinan memiliki teori-teori tersendiri antara lain Teori Genetie, Teori Sosial, dan Teori Ekologis. Selain itu kepemimpinan yang ditunjukan oleh pemimpin juga  memiliki fungsi-fungsi antara lain, Fungsi Instruktif, Fungsi Konsultatif, Fungsi Partisipasi, Fungsi Delegasi, dan Fungsi Pengendalian.
Kepemimpinan sangat dibutuhkan di dalam memimpin suatu perusahaan. Kepemimpinan yang ditunjukan oleh pemimpin akan mempengaruhi hubungan antara pemimpin dan karyawan. Sebaiknya gaya kepemimpinan disesuaikan dengan situasi yang terjadi.

B. Saran
Kepada mahasiswa Bimbingan dan Konseling diharapkan terus meningkatkan pemahaman dan kompetensi tentang bimbingan dan konseling secara umum dan Psikologi indsutri secara khusus.


DAFTAR REFERENSI

Dubrin, Andrew J., 2005. Leadership Edisi Kedua, Jakarta: Prenada Media,.hlm. 44
J. Riberu, 1992. Dasar-dasar kepemimpinan, Jakarta: Pedoman ilmi jaya.
Kartini Kartono, 2009. Pemimpin dan Kepemimpinan (Apakah Kepemimpinan Abnormal itu?), Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Pandji Anaroga, 2001. Psikologi Kepemimpinan, Jakarta: Rineka Cipta.
Robbins , Stephen P, 2008. Perilaku Organisasi edisi kesepuluh, Jakarta: Indeks.
Soejono Trimo, Analisis kepemimpinan, Bandung: Angkasa.
Sondang P. Siagian, 1999. Teori dan Praktik Kepemimpinan, Jakarta: Rineka cipta.
Yukl, Gary, 2005. Kepemimpinan dalam organisasi Edisi kelima, Jakarta: Indeks.
Zasri M. Ali, 2008. Dasar-dasar Manajemen, Pekanbaru: Suska Press.



[1] J. Riberu, Dasar-dasar kepemimpinan, Jakarta: Pedoman ilmi jaya, 1992. Hlm. 1.
[2] Stephen P Robbins, Perilaku Organisasi edisi kesepuluh, Jakarta: Indeks, 2008. Hlm. 432
[3] Gary Yukl, Kepemimpinan dalam organisasi Edisi kelima, Jakarta: Indeks, 2005. Hlm. 4
[4] Pandji Anaroga, Psikologi Kepemimpinan, Jakarta: Rineka Cipta, 2001. Hlm. 2
[5] Sondang P. Siagian, Teori dan Praktik Kepemimpinan, Jakarta: Rineka cipta, 1999. Hlm. 32
[6] Zasri M. Ali, Dasar-dasar Manajemen, Pekanbaru: Suska Press, 2008. Hlm. 76
[7]  Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan (Apakah Kepemimpinan Abnormal itu?), Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009. Hlm. 93
[8]  Andrew J. Dubrin, Leadership Edisi Kedua, Jakarta: Prenada Media, 2005.hlm. 44
[9] Soejono Trimo, Analisis kepemimpinan, Bandung: Angkasa, 1995. Hlm. 24
[10] Kartini Kartono, Op. Cit., Hlm. 93

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar