Pages

Minggu, 27 Februari 2011

MASUKNYA ISLAM DI MALAYSIA


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Bahasa Melayu adalah bahasa kedua setelah bahasa Islam. Dalam khazanah kesusasteraan Melayu, para Ulama telah menggunakan bahasa Melayu-Islam. Watak kedua bahasa ini telah berpengaruh pada pusaran kebudayaan melayu dalam lingkungan masyarakat Muslim di Malaysia. Namun kini setelah proses latinisasi hampir berhasil, ummat Islam telah kehilangan bahasa dan aktivitas tulisan Melayu yang dekat dengan Islam (Al-Qur’an). Ini merupakan indikasi kemerosotan budaya Muslim.
Kesultanan malaka merupakan kerajaan islam ke dua di asia tenggara. Kesultanan ini berdiri pada awal abad ke-15 M. Kerajaan ini cepat berkembang, bahkan dapat mengambil alih dominasi pelayaran dan perdagangan dari kerajaan samudra pasai yang kalah bersaing.
Pembentukan Negara malaka disinyalir ada kaitannya dengan perang saudara di majapahit setelah hayam wuruk  (1360-89 M ) meninggal dunia. Sewaktu perang saudara tersebut Parameswara putra  raja sriwijaya (Palembang) terlibat karena ia menikah dengan salah seorang putri majapahit. Parasmewara  kalah dalam perang tersebut dan melarikan diri ke tamasik ( sekarang Singapura) yang berada di bawah pemerintahan siam itu. Beliau membunuh penguasa Temasik , yang bernama Temagi dan kemudian menobatkan dirinya sebagai penguasa baru. Persoalan ini diketahui oleh kerajaan Siam dan memutuskan untuk menuntut balas atas kematian Temagi.  Parameswara dan para pengikutnya mengundurkan diri ke Muar dan akhirnya sampai di Malaka lalu membuka sebuah kerajaan baru tahun 1402 M.
Menurut versi ini, kedatangan Islam ke Malaka terjadi pada tahun 1414 M, ketika Parameswara menganut Islam dan menukar namanya menjadi Megat Iskandar Syah. Pengislamannya di ikuti oleh pembesar-pembesar istana dan rakyat jelata. Dengan demikian Islam mulai tersebar di Malaka. Paresmewara        ( megat Iskandar Syah) memerintah selama 20 tahun. Beliau mendapati Malaka sebagai sebuah kampung dan meninggalkannya sebagai sebuah kota serta pusat perdagangan terpenting di Selat Malaka., sehingga orang-orang arab menggelarinya sebagai malakat ( perhimpunan segala pedagang ).


B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dibahas di sini adalah :
  1. Kedatangan Islam di Malaysia
  2. Masuknya Islam ke Semenanjung Malaya
  3. Islam Sebagai Identitas Melayu
  4. Geliat Dakwah dan Syiar Islam
  5. Penyediaan Infra Struktur

C.     Landasan Masalah
Makalah ini didasarkan dari buku-buku yang mempelajari tentang Sejarah Islam Asia Tenggara dan khususnya mengenai Masuk dan Berkembangnya Islam di Malaysia.








BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kedatangan islam di Malaysia
Tidak ada dokumen yang lengkap mengenai kedatangan islam ke Malaysia menyebabkan munculnya berbagai teori tentang kapan dan di mana islam pertama kali menyebar pertama kali di Negara ini. Azmi berpendapat bahwa islam pertama kali datang ke Malaysia sejak abad ke-17 M.[1] Pendapatnya ini berdasarkan pada sebuah argumen bahwa pada pertengahan abad tersebut, pedagang arab islam telah sampai kegugusan pulau-pulau melayu, dimana Malaysia secara geografis tidak dapat dipisahkan darinya.  Para pedagang Arab muslim yang singgah di pelabuhan dagang Indonesia pada paruh ketiga abad tersebut. Menurut Azmi, tentu juga singgah di pelabuhan-pelabuhan dagang di Malaysia.
Hipotesis lain di kemukakan oleh Fatimi, bahwa islam datang pertama kali di sekitar abad ke-8 H (14 M). Ia berpegang pada penemuan Batu Bersurat di Trengganu yang bertanggal 702 H (1303 M ). Batu bersurat itu di tulis dengan aksara Arab. Pada sebuah sisinya  memuat pernyataan yang memerintah para penguasa dan pemerintah untuk berpegang teguh pada keyakinan islam dan ajaran rasulullah. Sisi lainnya memuat daftar singkat mengenai 10 aturan dan mereka yang melanggar akan mendapatkan hukuman.
Selain itu majul mengatakan bahwa islam pertama kali datang di Malaysia sekitar abad ke-15 dan abad ke-16 M. Kedua pendapat lain baik Fatimi maupun Majul juga tidak dapat di terima karena ada bukti yang lebih kuat yang menunjukkan bahwa islam telah tiba jauh sebelum itu yaitu pada abad ke-3 H (10 M). Pendapat terakhir ini di dasarkan pada penemuan Batu Nisan di Tanjung Inggris, kedah pada tahun 1965. Pada batu nisan itu tertulis nama Syeikh Abd al-Qadir ibn Husayn Syah yang meninggal pada tahun 291 H (940 M). Menurut sejarawan, syeikh abd al-Qadir adalah seorang da’I keturunan Persia. Penemuan ini merupakan suatu bukti bahwa islam telah datang ke Malaysia pada abad ke-3 H (10 M).
Kitab sejarah melayu (The malay Annalas) turut menceritakan bahwa raja Malaka, megat Iskandar Syah, adalah orang pertama di kesultanan itu yang memeluk agama Islam.[2] Di Negara Malaka yang terkenal sebagai pusat perdagangan international, para sultan turut mendukung proses Islamisasi , dengan turut meningkatkan pemahaman terhadap Islam  dan berpartisipasi dalam pengembangan wacana, kajian dan pengalaman Islam. Pemerintah memberikan konstribusi yang besar dalam mensukseskan kegiatan dakwah.
Kaum ulama pada saat itu sangat di hargai dan di hormati. Kadi dan ahli fikih mempunyai kedudukan yang sama dengan para pembesar lain. Selain turut menjalani ajaran islam, para sultan juga menceritakan turut meningkatkan syiar islam. Sejarah melayu menceritakan bahwa di bulan ramadhan, sultan bersama para pembesar istana turut berangkat kemesjid melaksanakan shalat tarawih, di mana kala itu mesjid menjadi tumpuan umat islam terutama pada bulan ramadhan.
Pengamalan islam semakin lebih tampak jelas terutama setelah kebangkitan islam di Malaysia terjadi pada tahun 1970-an dan mencapai puncaknya pada tahun 1980-an. Kebangkitan islam di Malaysia terlihat jelas pada upaya muslim Malaysia untuk mengamalkan ajaran islam secara lebih serius seperti aktif shalat berjemaah di mesjid, menghadiri wirid pengajian, banyak beramal shaleh, mengucapkan salam bila bertemu, berhati-hati dalam membeli busana muslim seperti jubah, jilbab atau baju kurung dan telekung bagi wanita, memakai sarung, serban dan peci atau pakaian lainnya yang jelas-jelas mencirikan ketaatan sebagai muslim.
            Gerakan kebangkitan islam juga terlihat di kalangan mahasiswa di kampus-kampus Malaysia. Di kalangan mahasiswanya terdapat kelompok-kelompok pengajian yang di kenal dengan “dakwah”. Mereka secara aktif mengadakan pengajian, puasa bersama, shalat malam bersama, dan tidak jarang juga mengadakan zikir dan renungan malam bersama.
Dengan demikian, kebangkitan islam di Malaysia yang terlihat dari kesadaran muslim Malaysia untuk mengamalkan ajaran islam secara lebih serius, juga turut memperkuat nuansa islam di Malaysia, di tambah lagi oleh kenyatan bahwa bersamaan dengan kebangkitan islam tersebut terdapat himbauan dan agar  tuntunan dari pemerintah memperlihatkan kebijakan dan program-program yag lebih islam.

B.     Masuknya islam ke semenanjung Malaya
Di semenanjung Malaya, pada abad X (10), daerah kekuasaan kerajaan Malaka telah menerima Islam. Sampai saat ini Islam telah menjadi agama resmi negara federasi Malaysia. Undang-undang Malaka (dikompilasi pada 1450) dengan jelas berisi hukum Islam yang menetapkan bahwa pemerintahan Malaka harus dijalankan sesuai dengan hukum Qur’ani.[3]
Dinamika islam di Negara Malaysia yang Kontemporer telah dapat menimbulkan kuatnya nuansa dan etos islam di Malaysia, dapat di tunjukkan dengan melihat kenyataan bahwa di banding dengan sejumlah Negara yang punya jumlah penduduk muslim dan non muslim yang hampir seimbang, hanya malaysia yang memberikan banyak tekanan pada symbol-symbol lembaga dan pengamanan islam. Kenyataan ini dapat di lihat terutama sejak kebangkitan islam di Malaysia yang berlangsung sejak tahun 1970-an dan mencapai puncaknya di tahun 1980-an. Hal ini dapat di buktikan dengan deklarasi pemerintah untuk merevisi sistem hukum nasional agar lebih selaras dengan hukum islam (1978) selanjutnya di ikuti oleh penyediaan infrastruktur dan institusi-institusi islam seperti bank islam, asuransi islam, penggadaian islam, yayasan ekonomi islam pembentukan kelompok sumber daya islam dan sebagainya.  Dalam perkembangan terakhir, dukungan pemerintah terhadap islam dapat dilihat dari perkembangan besar-besaran pusat Islam di putra jaya, serta intensifikasi program-program dan kegiatan keislaman melalui lembaga itu.
Mengapa nuansa islam kelihatan lebih kuat di Malaysia di banding dengan Indonesia yang penduduknya lebih besar  dan lebih banyak yang Beragama islam? Hal ini di sebabkan oleh factor sejarah  kesultanan perkembangan islam yang telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan politik melayu  sejak masa kesultanan malaka. Kendati demikian kuatnya etos islam di malaka hanya dapat di pahami secara berarti dan realistis jika di hubungkan dengan banyak factor lain yang telah memperkuat pengaruh islam dalam berbagai fase sejarah Malaysia.
Di Malaysia, penduduk Muslim tidak lebih dari 55 persen dari seluruh jumlah penduduk. Meskipun tidak semua orang Muslim adalah Melayu, secara konstitusional, orang Melayu mesti Muslim.[4]
Respon sultan dan masyarakat malaka yang sangat antusias terhadap kedatangan islam, pada gilirannya turut pula mengangkat posisi malaka sebagai pusat kegiatan dakwah. Selain rakyatnya menyebarkan dakwah keluar negeri, banyak pula orang luar yang datang ke malaka untuk menuntut ilmu. Sunan bonang dan sunan  kalijaga dua ulama dari jawa yang sangat terkenal sebelumnya menamatkan pengajiannya di malaka.
Dengan demikian, dapat di simpulkan bahwa di mulai dari paroh abad ke-15 islam telah menjadi unsure penting yang tidak terpisahkan dari kehidupan malaka, pusat kunci dari mana islam menyebar keseluruh bagian lain di nusantara. Sebagai pusat penyebaran islam, malaka begitu peka terhadap pengembangan islam. Langkah para sultan yang menitik beratkan pada pelayanan terhadap para ulama memungkinkan islam berkembang pesat. Sementara itu islam yang mempunyai dasar filosofis dan rasional yang kuat, mempengaruhi berbagai aspek kehidupan melayu. Dalam keidupan sehari-hari, ajaran islam dan nilai yang konsisten dengan islam, menjadi sumber penuntun hidup yang penting bagi melayu.

C.    Islam Sebagai Identitas Melayu
Sebagai periode paling awal di Malaysia, islam telah mempunyai ikatan yang erat dengan politik dan masyarakat melayu. Islam sebagai orang melayu bukan hanya sebatas keyakinan, tetapi juga telah menjadi identitas mereka, dan menjadi dasar kebudayaan melayu. Pakaian tradisional melayu misalnya, telah di sesuaikan dengan apa yang di anjurkan oleh islam. Berbaju kurung dan rok panjang bagi wanita yang di sertai dengan tutup kepala dengan maksud untuk menutup aurat. Pakaian laki-laki juga di sesuaikan dengan tuntunan ajaran islam. Etika berumah tangga, bertetangga dan bermasyarakat juga mengalami penyesuaian dengan ajaran islam. Ini berarti bahwa adat, tradisi dan budaya melayu telah di warnai oleh ajaran-ajaran islam.
Di sepanjang sejarah,hubungan yang sangat erat antara islam dan kebudayaan dan identitas melayu ini merupakan sesuatu yang di terima secara umum. Sejak membuang kepercayaan animisme dan memeluk islam selama kerajaan malaka bangsa melayu tidak pernah berubah agama. Pengaruh islampun berakar dalam berbagai dimensi kehidupan melayu. Barang kali tak semua mereka itu muslim yang taat , tapi kesetiaan, nilai-nilai, keyakinan dan sentiment islam selalu hadir menembus kebudayaan melayu serta sistem nilai dalam berbagai tingkat kekentalan. Islam telah menjadi bagian yang menyatu dengan identitas nasional, sejarah, hukum, entitas politik, dan kebudayaan melayu. Oleh karena itu tidak mengherankan bila islam di anggap sebagai komponen utama budaya melayu, dan sebagai unsure utama identitas melayu.
Identifikasi melayu dan islam, diantaranya biasa di lekatkan pada hakikat kepemimpinan politik melayu trradisional (kesultanan), yang di pimpin oleh sultan. “sultan” adalah istilah yang digunakan untuk menyebut penguasa muslim. Istilah itu berasal dari bahasa arab dan melambangkan kekuasaan islam di Negara itu. Kitab undang-undang malaka bahkan menyebut sultan malaka sebagai “Khalifat al-mu’minin, zill Allah fi al-alam” yang berarti khalifah orang-orang mu’min bayang Allah di muka bumi. Ini mengandung makna bahwa sultan bertanggung jawab langsung kepada Tuhan untuk memelihara  dan mengembangkan agama islam.  Karena itu para sultan tidak hanya punya peranan vital dalam pemapanan kesultanan sebagai institusi politik muslim, dan pembentukan serta pengembangan institusi-institusi muslim seperti pendidikan dan peradilan agama, tetapi juga terlibat langsung dalam berbagai aktivitas keagamaan dan kajian-kajian keislaman sehingga islam terasa begitu mewarnai kebudayaan melayu.
Dalam periode kemerdekaan Malaysia, Islam tetap menjadi isu penting bagi kebijakan Negara. Pada periode federasi agama merupakan kepedulian lokal dan sebagian besar kesultanan Melayu berusaha mempertahankan sebuah departemen urusan agama meliputi tugas pembangunan masjid, pemberlakuan moral dan kitab hukum pidana Islam, serta pengumpulan zakat.[5]

D.    Geliat Dakwah dan Syiar Islam
Pada prinsipnya, urusan agama islam menjadi wewenang pemerintah Negara bagian. Seperti yang telah di tetapkan dalam konstitusi Malaysia, sultan menjadi pimpinan agama islam di negerinya masing-masing. Selain itu, di negeri yang tidak mempunyai sultan seperti pulau pinang, malaka, sabah dan serawak serta wilayah federal kuala lumpur sendiri, pimpinan agama dipercayakan kepada yang di  pertuan agung. Namun demikian, kalau tidak bisa di katakan mengatur, agar aktivitas islam di Negara tersebut tidak menjadi sumber instabilitas.
Pusat islam selain berperan sebagai symbol dan aspirasi pemerintah dan menyebarkan islam secara serius juga berfungsi sebagai pusat syaraf birokrasi administrasi keislaman milik pemerintah. Selain itu, juga untuk mengkoordinasi seluruh kegiatan keislaman di Negara itu yang posisinya langsung di bawah kantor perdana menteri. Kompleks yang berbentuk istana dengan bangunan-bangunan megah serta fasilitas yang lengkap mencakup berbagai unit penting antara lain apa yang sebelumnya di kenal dengan Bahagian Hal Ehwal Islam (BAHEIS) atau yang saat ini lebih di kenal dengan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM), pusat penelitian islam, institut Dakwah, dan institute Al-Qur’an.
Diantara program yang di laksanakan BAHEIS adalah takmir mesjid, pendidikan islam, penyeragaman undang-undang, peningkatan kerjasama dalam bidang keislaman antara Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia. Selain itu juga program bagi peningkatan usaha-usaha islamiyah di kalangan umat, peningkatan pengawasan akidah umat islam, pemantapan sekolah-sekolah agama di seluruh negeri dan program rumahku surgaku.
Sentimen kebangkitan Islam melahirkan tiga kelompok besar utama yakni, Pertama: Malay Muslim Youth League (A.B.I.M), didirikan pada tahun 1971 yang dipimpin oleh Anwar Ibrahim, menyokong pembaharuan pada tingkat individual untuk melahirkan praktik Islam yang sesuai dengan Al-Qur’an dan pembaharuan pada tingkat sosial untuk melahirkan sebuah pranata kolektif Muslim yang adil, serta dapat mencurahkan diri pada islamisasi individu, keluarga, ummat, dan negara, dan mendidik pemuda malaysia yang bertaqwa kepada Allah. Kedua: Darul Arqam, yang memprakarsai berbagai usaha bersama / koperasi, klinik dan sekolah, dan menekankan sikap independen melalui aktivitas ekonomi seperti pertanian dan industri skala kecil, serta mengkhususkan pada pola kehidupan yang sesuai dengan Al-Qur’an dan tradisi Arab, termasuk diantaranya pemisahan antara jenis kelamin yang berbeda. Ketiga: Tabligh, yang berasal dari India, merupakan sebuah gerakan dakwah yang menyerukan pendidikan warga Malaysia menjadi warga yang baik.[6]

E.     Penyediaan Infra Struktur
Sebagai upaya untuk menunjukkan keseriusannya dalam merespon penegasan kembali islam, pemerintah menyediakan sejumlah infrastruktur yang di perlukan guna membantu umat islam dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban agama mereka. Realisasi paling umum dari keseriusan ini adalah pembangunan sejumlah mesjid untuk memenuhi kebutuhan komunitas muslim akan tempat ibadah. Selain itu, manisfestasi penting lainnya dari kesungguhan pemerintah akan terlihat dari penyediaan infrastruktur bagi kebijakan pro-islamnya di berbagai bidang kehidupan seperti ekonomi, dakwah dan syiar islam, pendidikan dan aspek-aspek lainnya dalam meningkatkan keberagaman masyarakat muslim. Di bidang pendidikan, pemerintah telah membangun Sekolah Guru Islam. Dibidang ekonomi, pemerintah juga menyediakan sejumlah infrastruktur berupa pembangunan Bank Islam , asuransi islam dan penggadaian islam.












         










      
                                            



                       BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Ada beberapa teori tentang kapan dan di mana islam pertama kali menyebar pertama kali di Negara ini. Azmi berpendapat bahwa islam pertama kali datang ke Malaysia sejak abad ke-17 M. pendapatnya ini berdasarkan pada sebuah argumen bahwa pada pertengahan abad tersebut, pedagang arab islam telah sampai kegugusan pulau-pulau melayu, dimana Malaysia secara geografis tidak dapat dipisahkan darinya.  Para pedagang Arab muslim yang singgah di pelabuhan dagang Indonesia pada paruh ketiga abad tersebut. Menurut Azmi, tentu juga singgah di pelabuhan-pelabuhan dagang di Malaysia.
Di sepanjang sejarah, hubungan yang sangat erat antara islam dan kebudayaan dan identitas melayu ini merupakan sesuatu yang di terima secara umum. Sejak membuang kepercayaan animisme dan memeluk islam selama kerajaan malaka bangsa melayu tidak pernah berubah agama. Pengaruh islampun berakar dalam pada berbagai dimensi kehidupan melayu.
Pengamalan islam semakin lebih tampak jelas terutama setelah kebangkitan islam di Malaysia terjadi pada tahun 1970-an dan mencapai puncaknya pada tahun 1980-an. Kebangkitan islam di Malaysia terlihat jelas pada upaya muslim Malaysia untuk mengamalkan ajaran islam secara lebih serius seperti aktif shalat berjemaah di mesjid, menghadiri wirid pengajian, banyak beramal shaleh, mengucapkan salam bila bertemu, berhati-hati dalam membeli busana muslim seperti jubah, jilbab atau baju kurung dan telekung bagi wanita, memakai sarung, serban dan peci atau pakaian lainnya yang jelas-jelas mencirikan ketaatan sebagai muslim.




B.  Saran
Setelah melalui studi pustaka dan diskusi kelompok selesailah makalah ini. Sepenuhnya kami sadar akan banyaknya kekurangan di beberapa titik. Banyak penafsiran-penafsiran serta pendapat yang berbeda dan itu semua tidak lepas dari sifat fitrah dari penulis sebagai manusia yang memiliki banyak keterbatasan. Jadi maklumlah kiranya, jika terdapat berbagai pendapat yang penulis simpulkan. Oleh semua itu, jika sampai terdapat beberapa perbedaan pendapat, tentunya bisa di pelajari. Maka, besar harapan kami adanya respon dari pembaca terhadap makalah ini.
Lepas dari itu semua kami berharap makalah ini dapat memberikan pengetahuan baru bagi siapapun pembacanya. Selanjutnya kami ingin berterima kasih kepada dosen pembimbing dan rekan-rekan yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah sederhana ini. Syukron. . .  . . . .           












DAFTAR PUSTAKA

Dr. Helmiati, M. Ag, Dinamika Islam Asia Tenggara, Suska Press, Pekanbaru, 2008.

Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2004.
Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam Bagian 3, PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta, 2000.













[1] Dr. Helmiati, M. Ag, Dinamika Islam Asia Tenggara, Suska Press, Pekanbaru, 2008, Hal. 95.
[2] Dr. Helmiati, M. Ag, Ibid., Hal. 26.
[3] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, Hal. 266.
[4]  Ajid Thohir, Ibid., Hal. 268.
[5] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam Bagian 3, PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta, 2000, Hal. 356-357. 
[6] Ira M. Lapidus, Ibid.,  Hal. 359-360.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar