Pages

Minggu, 04 November 2012

BAHASA SEBAGAI SARANA BERPIKIR ILMIAH



BAB I
PENDAHULUAN

Manusia tidak dapat terlepas dari bahasa. Dengan bahasa manusia dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Hal ini dapat membuktikan bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan orang lain. Selain melalui bahasa vocal manusia juga sering menuangkan hasil pemikiran melalui tulisan.
Tanpa bahasa tidak akan terjadi komunikasi dan transformasi pengetahuan sehingga manusia selalu berada dalam keterbelakangan. Lazimnya dalam sebuah komunikasi, bahasa merupakan alat sentral untuk menyampaikan sebuah pesan dan memahami maksudnya. Begitu juga dalam menyampaikan ilmu pengetahuan, bahasa menjadi salah satu sarana ilmiah dalam berfikir sehingga menghasilkan suatu kesimpulan yang logis.
Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan tidak terlepas dari peran bahasa di dalamnya, apalagi dalam perkembangan filsafat. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena hubungan antara bahasa dan filsafat telah berjalan lama, yaitu semenjak zaman Yunani kuno. Dalam hal ini, terdapat hubungan timbal balik antara bahasa dan filsafat. Pertama, bahasa menjadi subjek atau alat dalam menganalisis, memecahkan, dan menjelaskan problema-problema dan konsep-konsep filosofis sehingga filsafat dapat berkembang. Kedua, bahasa menjadi objek material, yaitu menjadi pembahasan dalam filsafat sehingga perkembangan bahasa semakin meningkat. Hubungan yang sudah lama dan erat ini tidak dapat dipisahkan terutama dalam pengertian pokok bahwa tugas utama filsafat adalah menganalisis konsep-konsep dan hal ini akan terungkap melalui bahasa. Berdasarkan uraian di atas maka penyusun akan memaparkan bagamiana keterkaitan antara bahasa dan filsafat selanjutnya bagaimana implikasi pada dunia pendidikan maupun bimbingan konseling.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Bahasa
Banyak ahli bahasa yang telah memberikan uraiannya tentang pengertian bahasa dan tentunya setiap ahli berbeda-beda dalam menyusun redaksional kata-kata. Berikut penyusun akan paparkan pengertian bahasa menurut ahli.
Menurut Louis O. Kattsoff (2004:39), bahasa tersusun dari perangkat-perangkat tanda yang digabungkan dengan cara-cara tertentu. Ada tanda-tanda satu demi satu seperti yang ditunjukan oleh huruf-huruf abjad. Bila huruf-huruf ini digabungkan dengan cara-cara tertentu maka sejumlah darinya menimbulkan apa yang dinamakan “kata-kata atau itilah-istilah dasar” bahasa.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bahasa adalah sistem lambang bunyi berartikulasi yang bersifat sewenang-wenang dan konvensional yang dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran.
Bloch and Trager dalam Amsal Bakhtiar (2008:176), mengatakan bahwa: “a language is a system of arbitrary vocal symbols by means of which a social group cooperates (Bahasa adalah suatu sistem simbol-simbol bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh suatu kelompok sosial sebagai alat untuk berkomunikasi).
Joseph Broam dalam Amsal Bakhtiar (2008:177), mengatakan bahwa: “a language is a structured system of arbitrary vocal symbols by means of wich members of group interac (Bahasa adalah suatu sistem yang berstruktur dari simbol-simbol bunyi arbiter yang digunakan oleh para anggota sesuatu kelompok sosial sebagai alat bergaul satu sama lain).
Batasan diatas memerlukan sedikit penjelasan agar tidak terjadi kesalah pahaman, oleh karen itu perlu diteliti setiap unsur yang terdapat didalamnya:
1.      Simbol-simbol
Simbol-sombol berarti things that stand for other things atau sesuatu yang menyatakan sesuatu yang lain. Hubungan antara simbol dan “sesuatu” yang dilambangkannya itu tidak merupakan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya atau sesuatu yang bersifat alamiah, seperti yang terdapat awan hitam dan turunnya hujan, ataupun antara tingginya panas badan dan kemungkinan terjadinya infeksi. Awan hitam adalah tanda turunnya hujan, panas suhu badan yang tinggi tanda suatu penyakit. Simbol atau lambang memperoleh fungsi khususnya dari mufakat kelompok atau konvensional sosial, dan tidak mempunyai efek apapun bagi setiap orang yang tidak mengenal konsensus atau konvensi tersebut.
Jadi, jika dikatakan  bahwa bahasa adalah suatu sistem atau simbol-simbol, hal tersebut mengandung makna bahwa ucapan si pembicara dihubungkan secara simbolis dengan objek-objek ataupun kejadian dalam dunia praktis.

2.      Simbol-simbol vokal
Simbol-simbol yang membangun ujaran manusia adalah simbol-simbol vokal yaitu bunyi-bunyi yang urutan-urutan bunyinya dihasilkan dari kerja sama berbagai organ atau alat tubuh dengan sistem pernafasan. Untuk memenuhi maksudnya, bunyi-bunyi tersebut haruslah didengar oleh orang lain dan harus diartikulasikan sedemikian rupa untuk memudahkan si pendengar untuk merasakannya secara jelas dan berbeda dari yang lain.
Pada dasarnya, ujaran merupakan fenomena akustik. Tidak semua bunyi yang dihasilkan oleh organ-organ vokal manusia merupakan simbol-simbol bahasa/lambang-lambang kebahasaan. Contohnya Bersin, batuk, dengkur dain lain sebagainya, biasanya tidak mengandung nilai simbolis, semua itu tidak bermakna apa-apa diluar diri mereka sendiri. Hanya apabila bunyi tersebut mempunyai makna konvensional tertentu dalam suatu kelompok sosial tertentu pula, misalnya apabila batuk-batuk kucing diartikan lambang dari rasa hormat atau keadaan memalukan, barulah diterima sebagai sejenis status tambahan dalam bahasa masyarakat tersebut.

3.      Simbol-simbol vokal arbitter
Istilah arbitter di sini bermakna “mana suka” dan tidak perlu ada hubungan yang valid secara filosofi antara ucapan lisan dan arti yang dikandungnya. Hal ini akan lebih jelas bagi orang yang mengetahui lebih dari satu bahasa. Misalnya, untu menyatakan jenis binatang yang disebut Equus Caballus, orang Inggris menyebutnya Horse, orang Perancis menyebutnya Cheval, orang Indonesia menyebutnya Kuda, dan orang Arab menyebutnya Hison. Semua kata ini sama tepatnya, sama arbitternya. Semuanya adalah konvensional sosial yakni sejenis persetujuan yang tidak diucapkan atau kesepakatan secara diam-diam antara sesama anggota masyarakat yang memberi setiap makna tertentu.

4.      Suatu sistem yang berstruktur dari simbol-simbol yang arbitter
Walaupun hubungan antara bunyi dan arti ternyata bebas dari setiap suara hati nurani, logika, atau psikologi, namun kerja sama antara bunyi-bunyi itu sendiri, di dalam bahasa tertentu, ditandai oleh sejumlah konsistensi, ketetapan intern.
Dalam beberapa bahasa, bunyi-bunyi tertentu tidak dapat dipakai di awal kata, yang lainnya tidak dapat dipakai atau menduduki posisi di akhir kata. Gabungan bunyi dan urutan bunyi membuktikan betapa pentingnya kriteria kecocokan dan pemolaan yang teratur rapi. Pemolaan ini jelas bersifat intuitif yang merupakan sifat tidak sadar, walaupun telah ditelaah oleh sarjana, diciptakan dan telah dipegunakan oleh manusia yang biasanya tidak sadar akan adanya suatu “sistem berstruktur” yang mendasari ujaran mereka.

5.      Yang digunakan oleh para anggota suatu kelompok sosial sebagai alat bergaul satu sama lain.
Bagian ini menyatakan hubungan antara bahasa dan masyarakat. Para ahli sosial menaruh perhatian pada tingkah laku manusia, sejauh tingkah laku tersebut mempengaruhi atau dipengaruhi manusia lainnya. Mereka memandang tingkah laku sosial seagai tindakan atau aksi yang ditujukan terhadap yang lainnya. Fungsi bahasa memang sangat penting dalam dunia manusia. Dengan bahasa para anggota masyarakat dapat mendakan interaksi sosial.telaah mengenai pola-pola interaksi ini merupakan bagian dari ilmu sosiologi.

B.     Fungsi Bahasa
Aliran filsafat bahasa dan psikolinguistik melihat fungsi bahasa sebagai sarana untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan emosi, sedangkan aliran sosiolinguistik berpendapat bahwa fungsi bahasa adalah sarana untuk perubahan masyarakat.
Walaupun ada perbedaan, pendapat ini saling melengkapi. secara umum dapat dinyatakan fungsi bahasa menurut Fathi Ali Yunus  dalam Amsal Bakhtiar (2008:180) adalah:

1.      Koordinatoor kegiatan-kegiatan masyarakat.
2.      Penetapan pemikiran dan pengungkapan.
3.      Penyampaian pikiran dan perasaan.
4.      Penyenangan jiwa.
5.      Pengurangan kegoncangan jiwa.

Menurut Halliday dalam Amsal Bakhtiar (2008:180) bahwa fungsi bahas adalah sebagai berikut:
1.      Fungis instrumental: Penggunaan bahasa untuk mencapai suatu hal yang bersifat materi seperti makan, minum dan sebagainya
2.      Fungsi regulatoris: penggunaan bahasa untuk memerintah dan perbaikan tingkah laku.
3.      Fungsi interaksional: Penggunaan bahasa untuk saling mencurahkan perasaan pemikiran antara seseorang dengan orang lain.
4.      Fungsi personal: Seseorang menggunakan bahasa untuk mencurahkan perasaan dan pikiran.
5.      Fungsi heuristik: Penggunaan bahasa untuk mencapai mengungkapkan tabir fenomena dan keinginan untuk mempelajarinya.
6.      Fungsi imajinatif: Penggunaan bahasa untuk mengungkapkan imajinasi seseorang dan gambaran-gambaran tentang discovery seseorang dan tidak sesuai dengan realita.
7.      Fungi representasional: Penggunaan bahasa untuk menggambarkan pemikiran dan wawasan serta menyampaikannya pada orang lain.

Fungsi Bahasa menurut Linda Thomas dan Shan Wraeing (1999:14) antara lain:
1.      Fungsi referensial dalam bahasa adalah yang terkait dengan nama apa yang digunakan untuk menyebut objek dan ide serta bagaimana cara mendeksripsikan kejadian.
2.      Fungsi afektif dari bahasa terkait dengan siapa yang boleh atau berhak mengatakan apa, di mana ini erat sekali kaitannya dengan kekuasaan dan statis sosal. Misalnya ucapan “sudah waktunya kamu keramas” itu merupakan ucapan yang tepat jika diberikan orang tua kepada anaknya tapi tidak tepat digunakan jika dari pegawai kepada bos.

Menurut Andre martinet (1987) fungsi bahasa ada tiga yakni:
1.      Berkomunikasi
2.      Bahasa berguna sebagai penunjang pikiran
3.      Bahasa untuk mengungkapkan diri.

C.    Bahasa Sebagai Sarana Berpikir Ilmiah
Bahasa pada hakikatnya merupakan suatu sistem simbol yang tidak hanya merupakan urutan bunyi-bunyi secara empiris, melainkan memilki makna yang sifatnya non empiris. Dengan demikian bahasa adalah merupakan sistem simbol yang memiliki makna, alat komunikasi manusia, penuangan emosi manusia. Filsafat sebagai suatu aktifitas manusia yang berpangkal pada akal pikiran manusia untuk menemukan kearifan dalam hidupnya, terutama dalam mencari dan menemukan hakikat realitas dari segala sesuatu yang memiliki hubungan yang sangat erat dengan bahasa. Oleh karena itu untuk dapat mengungkapkan struktur realitas diperlukan suatu sistem simbol bahasa yang memenuhi syarat logis sehingga satuan-satuan dalam ungkapan bahasa terwujud dalam bentuk preposisi. 
Keberadaan bahasa sebagai sesuatu yang khas milik manusia tidak hanya merupakan simbol belaka, melainkan media pengembang pikiran manusia terutama dalam mengungkapkan realitas segala sesuatu.
Kemampuan berbahasa dan kemampuan berfikir saling berpengaruh satu sama lain. Bahwa kemampuan berfikir berpengaruh terhadap kemampuan berbahasa, sebaliknya kemampuan berbahasa berpengaruh pada kemampuan berpikir. Seseorang yang rendah kemampuan berpikirnya akan mengalami kesulitan dalam menyusun kalimat yang laogis, baik dan sistematis. Hal ini akan berakibat sulitnya untuk berkomunikasi. Seseorang menyampaikan ide dan gagasannya dengan bahasa dan menangkap ide dan gagasan orang lain melalui bahasa. Menyampaikan dan mengambil makna ide dan gagasan itu merupakan proses berpikir yang abstrak. Ketidaktepatan menangkap arti bahasa akan berakibat pada ketidaktepatan dan kekaburan persepsi yang diperolehnya. Akibat lebih lanjut adalah bahwa hasil proses berpikir menjadi tidak tepat benar. Ketidaktepatan hasil pemrosesan berpikir ini diakibatkan kekurangmampuan dalam bahasa (dalam Sunarto dan Agung Hartono, 2006).
Dengan demikian dalam kehidupan manusia bahasa bukan berfungsi sebagai alat komunikasi saja melainkan juga menyertai proses berpikir manusia dalam usahanya memahami dunia luar. Oleh sebab itu bahasa selain memilki fungsi komunikatif juga memilki fungsi kognitif dan emotif.
Persoalan yang mendasar adalah bagaimana kegiatan bernalar manusia dapat dikomunikasikan pada orang lain dan dapat mewakili kebenaran isi pikiran manusia. Dalam pengertian ini peran bahasa di dalam logika menjadi sangat penting. Kegiatan penalaran manusia sebagaimana dijelaskan adalah kegiatan berpikir (Kaelan, 2002).
Untuk dapat berpikir ilmiah, seseorang layaknya menguasai kriteria maupun langkah-langkah dalam kegiatan ilmiah. Dengan menguasai hal tersebut tujuan yang akan digapai akan terwujud. Di samping menguasai langkah-langkah tentunya kegiatan ini dibantu oleh sarana yang salah satunya adalah bahasa.
Bahasa sebagai alat komunikasi verbal yang digunakan dalam proses berpikir ilmiah di mana bahasa merupakan alat berpikir  dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain, baik pikiran yang berlandasakan logika induktif atau deduktif. Dengan kata lain, kegiatan berpikir ilmiah ini sangat berkaitan dengan bahasa. Menggunakan bahasa yang baik dalam berpikir belum tentu mendapatkan kesimpulan yang benar apalagi dengan bahasa yang kurang benar. Premis yang salah akan menghasilkan kesimpulan yang salah juga. Semua itu tidak terlepas dari fungsi bahasa itu sendiri sebagai sarana berpikir.

D.    Bahasa Ilmiah dan Bahasa Agama
Telah diutarakan sebelumnya bahwa bahasa ilmiah adalah bahasa yang digunakan dalam kegiatan ilmiah, berbeda dengan bahasa agama. Ada dua pengertian mendasar tentang bahasa agam, pertama, bahasa agama adalah kalam Illahi yang terabadikan dalam kitab suci. Kedua, bahasa agama merupakan ungkapan serta perilaku keagamaan dari seseorang atau sebuah kelompok sosial. Dengan kata lain bahasa agama dalam konteks kedua merupakan wacana keagamaan yang dilakukan oleh umat beragama maupun sarjana ahli agama, meskipun tidak selalu menunjuk serta menggunakan ungkapan-ungkapan kitab suci. Walaupun ada perbedaan antara kedua bahasa ini namun keduanya merupakan sarana untuk menyampaikan sesuatu dengan gaya bahasa yang khas.
Bahasa ilmiah dalam tulisan-tulisan ilmiah terutama sejarah selalu dituntut secara deksriptif sehingga memungkinkan pembacanya untuk ikut menafsirkan dan mengembangkan lebih jauh. Sedangkan bahasa agama menggunakan gaya deskriptif juga preskriptif yakni struktur makna yang dikandung selalu bersifat persuasive di mana pengarang mengkhendaki di pembaca mengiktui pesan.
Bahasa ilmiah yang notabene merupakan kreasi manusia bagaimanapun indah gaya bahasanya dan teratur urutan katanya namun tetap akan dihadapkan pada kritik dan saran dari pembaca. Hal ini sangat berbeda dengan bahasa agama di mana para jagoan sastra harus mengakui kekalahan mereka jika dihadapkan dengan gaya bahasa agama yang termaktub di dalam Al-Qur’an.


BAB III
IMPLEMENTASI DALAM BIDANG PEMBELAJARAN  DAN BIMBINGAN KONSELING

A.    Implementasi dalam Pembelajaran
Dari uraian yang telah dipaparkan maka dapat penyusun simpulkan bahwa bahasa memgang peranan yang penting dalam dunia pendidikan. Sebagai regulatoris bahasa dapat berperan dalam mengubah tingkah laku peserta didik dalam pembelajaran, dengan bahasa yang baik dan dapat dimengerti seorang pendidik bisa melakukan persuasive kepada peserta didik untuk bertindak dalam kaidah-kaidah kebenaran. Selain itu dari segi heuristik bahasa dapat berperan sebagai sarana pembelajara untuk mengungkap tabir fenomena yang ada di jagat raya dan memiliki keinginan untuk mempelajarinya. Dari aspek representasional bahasa juga dapat berperan sebagai sarana menyampaikan pemikiran dan wawasan. Seorang pendidik maupun peserta didik dapat menggunakan bahasa dalam menyampaikan wawasan dan pikiran. Sebagai contoh dalam strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir (SPPKB) siswa dituntut untuk mampu berpikir bukan hanya mendengar dan mencatat. Dari proses pemikiran tentang suatu materi siswa kemudian diminta untuk menyampaikan gagasan-gagasannya kepada siswa lain, tentu saja dalam hal ini peran bahasa sangat diperlukan. Bagaimana siswa mampu menyusun kalimat dan menyampaikannya dengan baik tentu saja akan berpengaruh kepada tingkat pemahaman penerima pesan. Lebih jauh lagi bahasa dalam pembelajaran dapat berfungsi sebagai grooming talking atau tuturan yang sopan. Penyampaian pola pikir yang dilakukan selain menggunakan bahasa yang ilmiah dan teratur juga harus mengandung unsur-unsur kesopanan. Hal ini dilakukan untuk memperlancar proses sosial dan menghindari pertentangan antar peserta didik.
B.     Implementasi dalam Bimbingan dan Konseling
Sebenarnya tidak jauh berbeda bagaimana penerapan bahasa dalam proses pembelajaran, dalam bimbingan dan konseling juga menggunakan fungsi-fungsi di atas. Namun penyusun akan membahasnya dari perspesktif bimbingan dan konseling itu sendiri.
Telah dikatakan sebelumnya bahwa bahasa dapat digunakan dalam mengubah tingkah laku. Hal ini tentunya sangat sesuai dengan fokus pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling yakni untuk mengubah tingkah laku siswa dari yang tidak sesuai dengan norma, tidak efektif, maupun dalam tataran negatif kepada pola tingkah laku yang sesuai dan efektif. Efektifkah persuasive yang dilakukan kepada siswa untuk mengubah tingkah laku jika tanpa bahasa? Menurut penyusun sendiri bahasa tetap memiliki peran yang besar dalam perubahan tingkah laku siswa. Pola-pola ataupun simbol bunyi yang dilakukan guru bimbingan dan konseling ketika menjadi fasilitator untuk perubahan tingkah laku siswa setidaknya harus memuat syarat bahasa yang digunakan jelas, tersusun baik, dan menjunjung kesetaraan.
Dari aspek interaksional, bahasa dapat digunakan sebagai sarana berinteraksi dengan siswa. Interaksi yang dibangun tentunya harus hangat dan penuh penghargaan positif. Jangan memandang rendah atau enteng kepada siswa karena akan berpengaruh pada pola bahasa yang akan digunakan. Sedang ataupun tidak memberikan layanan interaksi tetap harus dijalin agar terbinanya suatu hubungan kedekatan ataupun intim antara guru bimbingan dan konseling dengan peserta didik agar peserta didik mau dan bersemangat dalam memanfaatkan pelayanan bimbingan dan konseling
Jika dipandang dari aspek personal. Bahasa dapat digunakan untuk mencurahkan perasaan kepada orang lain. Tentu saja hal ini sangat relevan dengan pelayanan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan oleh guru bimbingan dan konseling terutama pada jenis-jenis layanan yang memang berkaitan dengan sentuhan emosional siswa seperti layanan konseling individu maupun konseling kelompok. Klien dapat mencurahkan isi perasaannya kepada konselor tentunya dengan bahasa selain dengan bentuk nonverbal.
Dari aspek heuristik bahasa dapat digunakan untuk mengembangkan aspek keilmuan bimbinngan dan konseling. Dengan semakin berkembangnya zaman tentu saja disertai dengan perbedaan kebutuhan sasaran layanan bimbingan dan konseling. Dalam hal ini pemikiran yang mendalam perlu dilakukan dan menggunakan metode-metode ilmiah sehingga dihasilkan temuan-temuan terbaru dan disampaikan gagasan tersebut kepada orang lain dengan bahasa. Pada pembahasan telah diuraikan bahwa kemampuan berbahasa erat kaitannya dengan kemampuan berpikir begitu juga sebaliknya. Jika seorang guru bimbingan dan konseling rendah dalam kemampuan berpikirnya maka ia juga akan sulit menyusu kalimat yang logis, sistematis dan jelas dalam menyampaikan gagasan-gagasannya kepada orang lain.
Jika dipandang dari aspek representasional bahasa dapat digunakan oleh guru-guru bimbingan dan konseling maupun siswa untuk bertukar ide ataupun gagasan. Sejenis diskusi keilmuan dapat dilakukan, tentu saja dengan memanfaatkan bahasa.



DAFTAR REFERENSI

Amsal Bakhtiar. 2008. Filsafat Ilmu. Jakarta. Raja Grafindo Persada.
Andre Martinet. 1987. Ilmu Bahasa. Yogyakarta. Kanisius.
Kaelan. 2002. Filsafat bahasa masalah dan perkembangannya. Yogyakarta. Paradigma.
Kattsoff, Louis O. 2004. Pengantar Filsafat (Alih bahasa Soejono Soemargono). Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
Sunarto dan Ny. B. Agung Hartono. 2006. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta. Rineka Cipta.
Thomas, Linda, dkk. 1999. Bahasa, Masyarakat dan Kekuasaan (Alih Bahasa Sunoto, dkk). Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Pusat Bahasa.


PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
PROGRAM PASCASARJANA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
1433 H / 2012 M

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar