Pages

Selasa, 27 November 2012

PENDIDIKAN KARAKTER SOLUSI MENGATASI DEGRADASI MORAL


Perubahan sosial yang begitu cepat (rapid social change) yang diakibatkan perkembangan dan kemajuan yang terjadi secara jelas telah mempengaruhi gaya hidup masyarakat. Banyak hal yang bisa kita lihat di sekeliling kita bagaimana perubahan itu bisa terjadi. Contohnya saja nilai-nilai religius dan sosial kemasyarakatan yang sangat dijunjung masyarakat telah berubah menjadi corak masyarakat yang mengesampingkan moral serta etika dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Corak hidup kebersamaan, gotong royong telah berubah menjadi corak masyarakat yang individualis. Perubahan-perubahan yang terjadi tersebut sangat menuntut kesiapan dari anggota masyarakat. Ketika masyarakat tidak memiliki patokan/pedoman nilai-nilai yang kuat maka ia  bisa mengikuti arus perubahan  tersebut, dalam artian ia tidak mampu melakukan filterisasi terhadap mana yang baik dan mana yang buruk.
Masyakarat juga tidak akan mungkin  bisa menahan dan menghindar dari perkembangan-perkembangan tersebut. Perkembangan yang terjadi pada hakikatnya baik karena mengindikasikan bahwa umat manusia memiliki tekad untuk mencapai kehidupan yang lebih baik (better of life). Contohnya saja penciptaan berbagai macam alat teknologi seperti telepon seluler, internet, maupun media-media lainnya, tentunya sangat bermanfaat bagi manusia jika tetap memiliki pertimbangan nilai dan moral conduct dalam mengkonsumsi produk-produk tersebut. Nilai-nilai kebergunaan tentang suatu alat dan teknologi tentunya sangat ditentukan oleh manusia itu sendiri. Jika ia tidak mampu menahan diri dan tidak memiliki pegangan nilai, maka ia terjebak dalam perubahan tersebut tanpa memperhatikan berlakunya nilai kebaikan. Oleh sebab itu banyak kita lihat masyarakat yang memanfaatkan alat-alat tersebut untuk kepentingan negatif baik anak-anak hingga dewasa.
Cukup miris ketika kita memperoleh informasi dari media massa tentang fenomena yang terjadi pada remaja sekarang ini. Setidaknya perubahan-perubahan yang terjadi juga merambah pada dunia mereka dan sangat disayangkan banyak di antara mereka yang tidak mampu menjangkau dan tidak dapat memprediksi perkembangan tersebut sehingga melahirkan diskontinuitas perkembangan seperti terjadinya penyimpangan-pernyimpangan perilaku. Tawuran antar pelajar, pelanggaran tata tertib berkendaraan, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, seks bebas, maupun pelanggaran-pelanggaran disiplin di sekolah seolah-olah telah menjadi hal yang biasa. Hampir setiap hari mungkin dijumpai siswa yang tawuran, bahkan mereka sudah tidak memainkan fungsi logika dan perasaan.
Namun di antara sekian banyak remaja juga masih kita temui mereka yang tidak terjebak dalam perilaku menyimpang. Mereka inilah yang memiliki sifat keunggulan secara individualistik maupun keunggulan pasrtisipatoris. Ketika norma-norma dalam masyarakat telah dijungkir balikan oleh masyarakat itu sendiri namun masih ada pribadi yang memiliki pemahaman diri, memaknai dengan positif perubahan yang terjadi, memilih tindakan yang akan digunakan dalam menghadapi tantangan, tidak mudah tergoda oleh kesenangan sesaat, berpikir ke depan, dan mensyukuri keberhasilan yang diperoleh. Inilah sifat-sifat yang dibutuhkan manusia dalam menghadapi perkembangan tersebut menurut Jenifer James. Namun apakah semua remaja memiliki sifat seperti itu?, tentunya sifat seperti itu tidak terbentuk secara sempurna dengan sendirinya, harus ada sentuhan eksternal untuk menanamkan nilai-nilai tersebut.
Presiden Yudhoyono dalam sambutan Hardikas Tahun 2010 menyampaikan bahwa membangun watak bangsa amatlah penting melalui pendidikan karakter. Ketika pengembangan manusia bertumpu pada watak maupun moral dan ia berhasil maka tidak akan begitu sulit dalam mengembangkan aspek-aspek lain. Sebaliknya ketika pendidikan tidak mampu membentuk manusia-manusia yang berkarakter cerdas, yang mengesampingkan pertimbangan nilai dalam mencapai tujuan, yang hanya ingin praktis dalam mencapai keinginan, alhasil ketika ia berada dalam konteks kehidupan bermasyarakat bisa dikatakan bahwa apa yang dilakukannya hanya difokuskan pada pemenuhan kepentingannya saja dan mengabaikan kepentingan bersama. Orang-orang yang tidak memiliki karakter atau watak lah yang melakukan korupsi, orang yang tidak memiliki kepribadian yang unggul lah yang melakukan perilaku-perilaku menyimpang, orang yang tidak memiliki sikap yang jelaslah mereka yang melanggar norma-norma dalam masyarakat.
Sistem pendidkan nasional sekiranya masih belum mampu mencapai tujuan pendidikan nasional seutuhnya, yakni untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk manusia Indonesia yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal ini bisa jadi disebabkan karena secara nyata fokus upaya pendidikan di Indonesia baik formal, informal maupun non formal, hanya mengunggulkan ranah kognitif dengan mengesampingkan afektif. Contohnya saja banyak orang tua khususnya di kota-kota besar yang berbondong-bondong mendaftarkan anaknya ke lembaga private mata pelajaran dibandingkan mengantarkan anaknya untuk mengikuti pendidikan subuh di Mesjid. Contoh lain, pelaksanaan Ujian Nasional (UN) yang hanya menjadikan beberapa mata pelajaran sebagai parameter kelulusan. Jelas yang menjadi unggulan dan fokus adalah kognitif. Apabila sistem seperti ini terus dibiarkan maka akan membentuk manusia yang cerdas dalam akal dan berpikir namun secara emosional dan spiritual ia lemah. Inilah yang menyebabkan mengapa bangsa ini mengalami perkembangan yang lambat padahal dengan sumber daya alam yang luar biasa bangsa kita bisa menjadi bangsa yang maju dan terpandang.
Fenomena tersebut mungkin bisa dihubungkan dengan 4 pilar pembelajaran yang dicetuskan oleh UNESCO yakni learning to know, learning to do, learning to live together, dan learning to be. Saya memandang 4 pilar pembelajaran tersebut mengesampingkan pembentukan sikap, penanaman nilai agama, serta pembentukan karakter cerdas pada diri anak. Dengan kata lain dalam membentuk pribadi-pribadi yang berkarakter tidak bisa hanya mengacu pada 4 pilar tersebut. Perlu adanya tambahan satu pilar lagi yaitu learning to have character. Ketika pilar ini ditambahkan maka masing-masing pilar yang dicetuskan UNESCO di dalamnya akan memuat bagaimana pembentukan karakter. Ketika kita belajar untuk tahu maka di dalamnya memuat bagaimana membentuk karakter, ketika belajar untuk mengerjakan/melakukan di dalamnya memuat karakter, ketika kita belajar hidup bersama di dalamnya memuat pembentukan karakter, dan ketika kita belajar untuk menjadi diri sendiri di dalamnya juga memuat pembentukan karakter. Penanaman karakter yang dilakukan ditujukan untuk membentuk sifat pribadi yang relatif stabil dan menjadi landasan bagi penampilan perilaku dalam standar nilai dan norma sebagai upaya mencapai enam fokus upaya pendidikan sebagaimana yang tertuang dalam pengertian pendidikan (UU No. 20/2003: SPN, Pasal 1 Butir 1) yaitu dikembangkannya pada diri peserta didik: kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan.
Untuk menerapkan pendidikan karakter tentunya tidak bisa dilakukan hanya oleh 1 pihak saja. Ketika guru membentuk karakter pada diri anak, sedangkan di lingkungan masyarakat ia melihat banyak nilai-nilai yang dilanggar, maka hanya ada dua kemungkinan, ia tetap berpegang teguh pada nilai-nilai yang telah dipelajari di sekolah, atau ia menanggalkan nilai-nilai tersebut dan mengikuti pelanggaran nilai-nilai yang terjadi di masyarakat. Oleh sebab itu untuk membentuk pribadi yang unggul dan berkarakter diperlukan kerja sama dan koordinasi antara sekolah, keluarga, dan anggota masyarakat.
Sebagai lingkungan pertama bagi anak, keluargalah yang memainkan peranan pertama. Di rumah orang tua hendakya memberikan pendidikan moral dan karakter pada anak. Ajarkan nilai-nilai kepada anak. Orang tua bisa menggunakan pendekatan-pendekatan khusus yang diwarnai dengan kelembutan dan kasih sayang. Ketika mengajar anak dengan kekerasan secara tidak langsung kita mengajarkan perilaku kekerasan pada anak yang tentu saja sangat jauh dari nilai-nilai karakter. Ketika di sekolah juga dapat dilakukan pendidikan karakter baik secara langsung dan tidak langsung. Contohnya mengajarkan cerita dan puisi yang di dalamnya memuat karakterisitk moral, kemudian diskusikan dengan anak tentang nilai-nilai karakter yang melekat pada diri tokoh dan pesan moral apa yang bisa diambil. Tentunya banyak sekali bahan-bahan yang bisa digunakan dalam pendidikan karakter. Secara tidak langsung bisa diberikan melalui bentuk perilaku yang dicontohkan oleh pendidik, misalnya mengucapkan salam, pendidik menganjurkan siswa untuk antri ketika ingin pulang, dan lain sebagainya. Begitu juga di masyarakat. Harus ada kesadaran bagi masing-masing anggota masyarakat untuk menanamkan nilai-nilai karakter pada remaja. Pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama, kesuksesan suatu negara juga tidak terlepas dari peran anggota masyarakatnya. Bersama-sama menghindari sifat individualistik dengan menjadi manusia yang peka, ketika melihat sesuatu itu salah maka ingatkan dan ajarkan agar menjadi benar, dan ketika melihat sesuatu yang dikerjakan itu benar maka berikan penguatan agar perilaku tersebut menjadi relatif menetap.
Koordinasi antara pihak-pihak tersebut sangat diperlukan agar pendidikan karakter yang dilakukan dapat efektif. Jelaslah bahwa masing-masing lingkungan pendidikan (keluarga, sekolah, masyarakat) tidak bekerja sendiri, namun merupakan suatu kesatuan kerja. Prinsip lepas tanggung jawab harus sangat dihindarkan. Seperti prinsip ketika anak berada di sekolah maka itu hanya menjadi tanggung jawab guru, ketika anak melakukan pelanggaran di luar sekolah menurut pendidik itu bukan merupakan tanggung jawabnya karena dilakukan usai jam pelajaran di sekolah.
Untuk mencapai suatu kesukesan dalam memberikan nilai pada orang tentunya dari awal kita bentuk dulu nilai karakter pada diri kita. Mungkin masih ada guru yang mengingatkan siswanya untuk jangan terlambat ke sekolah namun ia sendiri terlambat ke sekolah, masih ada guru yang mengingatkan siswa agar tidak berkonflik dengan sesama siswa namun ia sendiri terlibat konflik dengan sesama pendidik. Tidak akan efektif suatu pendidikan jika pendidik tidak terdidik dan tidak akan dikatakan berhasil suatu pendidikan jika pendidik tidak memiliki dimensi keikhlasan.
Perlu diingat bahwa untuk mengubah ataupun membentuk sistem nilai pada diri anak dibutuhkan proses, tidak bisa secara instan kita bentuk karakter tersebut, oleh sebab itu baik orang tua, guru di sekolah maupun masyarakat luas perlu kesabaran dan upaya ekstra dalam membentuk pribadi yang berkarakter. Ketika penanaman karakter dikatakan berhasil pada remaja, kelak merekalah yang akan membangun tanah air menjadi maju dan tetap berpegang teguh pada nilai agama, moral, dan aturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara melalui cerminan etika, moral, budi pekerti, dan ditandai dengan samangat, tekad, dan energi yang kuat, dengan pikiran positif dari sikap yang optimis. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar