Pages

Selasa, 27 November 2012

“PERBEDAAN SISWA” MEMBUTUHKAN SENTUHAN YANG BERBEDA


Saya pernah menonton sebuah film India yang menceritakan bagaimana perjuangan seorang guru dalam membimbing seorang siswa disleksia. Ketika itu ia diasingkan oleh orang tuanya sendiri. Orang tuanya tidak mengerti apa yang terjadi pada anak tersebut sehingga anak tersebut dipindahkan ke sekolah asrama dengan tujuan agar anak tersebut menjadi disiplin dan pandai. Namun tidak ada perubahan pada diri anak. Ia masih mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis sehingga seringkali ia mendapatkan hukuman dan mendapatkan nilai yang kurang baik. Namun seorang guru kesenian yang merupakan mantan guru sekolah luar biasa memahami apa yang dialami siswa tersebut sehingga ia meminta izin khusus kepada Kepala Sekolah untuk membimbing secara intensif siswa tersebut untuk membaca dan menulis. Tidak hanya sampai di situ, guru tersebut juga berusaha menggali dan mengembangkan bakat yang dimiliki oleh anak tersebut yakni melukis. Berkat bimbingan yang diberikan secara khusus kepada siswa tersebut akhirnya siswa tersebut mengalami perkembangan yang signifikan, ia akhirnya mampu membaca, menulis, ia juga mampu mengembangkan bakatnya, dan memiliki prestasi yang baik, sehingga orang-orang yang awalnya terkesan mengasingkan dirinya menjadi bangga terhadap dirinya, termasuk orang tuanya.
Itu merupakan sebuah resensi film yang pesan-pesannya harus dicontoh oleh setiap pendidik. Mari kita bentuk paradigma pada diri masing-masing bahwa setiap anak harus tetap diperhatikan, dibina, dan dididik sebagaimana mestinya agar mereka mencapai perkembangan yang optimal. Yakini juga setiap manusia memilki potensi dasar yang harus dikembangkan, tugas pendidik adalah bagaiamana ia mampu membantu siswa untuk menemukan bakatnya dan mampu mengembangkan dengan baik. Saya pernah mendengar sebuah pernyataan yang sungguh membuat hati saya miris, ”kalau anak tidak bisa dibina maka dibinasakan saja”. Apa yang anda pikirkan ketika anda membaca pernyataan itu?. Jika anda orang yang mengetahui bagaimana hakikat pendidikan pasti anda sangat tidak setuju bahkan menentang, namun itulah sebagian kecil yang terjadi di negeri kita. Rasa putus asa, sikap ketidakpedulian yang ditunjukan oleh pendidik ketika menghadapi siswa-siswa yang membutuhkan bimbingan khusus pada akhirnya akan membinasakan siswa itu sendiri.

PENDIDIKAN KARAKTER SOLUSI MENGATASI DEGRADASI MORAL


Perubahan sosial yang begitu cepat (rapid social change) yang diakibatkan perkembangan dan kemajuan yang terjadi secara jelas telah mempengaruhi gaya hidup masyarakat. Banyak hal yang bisa kita lihat di sekeliling kita bagaimana perubahan itu bisa terjadi. Contohnya saja nilai-nilai religius dan sosial kemasyarakatan yang sangat dijunjung masyarakat telah berubah menjadi corak masyarakat yang mengesampingkan moral serta etika dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Corak hidup kebersamaan, gotong royong telah berubah menjadi corak masyarakat yang individualis. Perubahan-perubahan yang terjadi tersebut sangat menuntut kesiapan dari anggota masyarakat. Ketika masyarakat tidak memiliki patokan/pedoman nilai-nilai yang kuat maka ia  bisa mengikuti arus perubahan  tersebut, dalam artian ia tidak mampu melakukan filterisasi terhadap mana yang baik dan mana yang buruk.

Selasa, 13 November 2012

PENGGUNAAN BAHASA “ALAY” MEWABAH DI KALANGAN REMAJA


Bahasa memegang peranan penting di dalam kehidupan manusia.Salah satu aspek penting dari bahasa ialah fungsi bahasa.Secara umum fungsi utama dari bahasa adalah sebagai alat komunikasi.Dengan adanya bahasa seseorang dapat berinteraksi dengan orang lain, dengan adanya bahasa seseorang bisa bersosialisasi, bahkan dengan bahasa manusia dapat mengaktualisasikan diri.
Bahasa yang ada di dunia sangat banyak dan memiliki karakterisitk masing-masing. Tidak jarang seseorang mempelajari bahasa daerah lain atau negara lain, yang bertujuan agar dapat memperkaya diri dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman sehingga dapat menunjang kesuksesan bahkan keberlangsungan hidup di masa depan.
Indonesia menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Perkembangan Bahasa di Indonesia sudah di mulai sejak zaman dahulu.Di mulai dari penggunaan bahasa yang sederhana, kemudian mengalami perkembangan, hingga bahasa secara jelas diucapkan secara verbal sehingga karakteristiknya menjadi nyata dan jelas.Bahasa Indonesia yang kita gunakan baru diresmikan pada tanggal 28 oktober 1928 yakni ketika sumpah pemuda.
Bahasa Indonesia merupakan perkembangan dari bahasa melayu. Namun pada saat sekarang ini kita tidak dapat mengatakan bahwa bahasa Indonesia sama dengan bahasa melayu, hal ini dikarenakan bahasa Indonesia terus mengalami perkembangan, hingga mengalami perubahan pada elemen kata, tata penulisan maupun pengucapan.
Era globalisasi seperti saat sekarang ini menuntut orang harus mampu mengusasi ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya di kalangan generasi muda.Orientasi pendidikan pun ditujukan pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk itu, bahasa Indonesia memegang perananyang penting. Di samping bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan, bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi.
Berpedoman pada kurikulum pendidikan, mata pelajaran bahasa Indonesia tidak pernah terlepassejak pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Bahkan pembelajaran bahasa Indonesia bukan hanya di ajarkan di dalam negeri, namun ada beberapa Negara lain yang menyelenggarakan kelas bahasa Indonesia, salah satunya adalah Thailand.

Kamis, 08 November 2012

PERAN SASTRA MELAYU TERHADAP GERAKAN KESADARAN MELAYU (Sebuah tinjauan pada masa Kerajaan dan masa kini)



A. Peran Sastra Melayu Terhadap Gerakan Kesadaran Melayu Pada Masa Kerajaan
Gerakan kesadaran adalah sebuah gerakan yang mengatas namakan diri sendiri atau kelompok untuk mencapai kemajuan dan kebebasan. Gerakan kesadaran merupakan sesuatu hal yang mutlak di dalam kehidupan suatu bangsa. Di dalam dunia melayu sendiri, pada awalnya gerakan kesadaran di mulai dengan adanya keinginan diri membentuk negeri atau watak bangsa menjadi lebih maju dan unggul.
Dalam menumbuh kembangkan gerakan kesadaran, masyarakat melayu pada zaman kerajaan menggunakan berbagai cara. Salah satu cara yang menjadi ujung tombak dan sangat berperan pada saat itu adalah penggunaan satra melayu.
Sastra melayu bukan hanya sekedar buah pemikiran sastrawan yang menggunakan pola imajinatif saja, tetapi sastra melayu dapat di gunakan untuk mengkritik,  membangun sebuah realitas sosial dan Sebagai alat pengendali sosial. Banyak sastrawan yang menggunakan media sastra sebagai alat untuk melakukan pembenahan, bahkan membangun sebuah gerakan kesadaran yang bertujuan mendorong masyarakat menuju kepada kemajuan.
Penggunaan sastra melayu untuk menumbuhkan gerakan kesadaran pada masa kerajaan memanglah merupakan jalan yang sangat integratif dengan kebudayaan tempatan dan yang terpenting memiliki nilai korelasi yang sangat tinggi dengan nilai-nilai agama. Resam, adat dan Agama Islam merupakan tiga sistem nilai yang mendasar dalam kehidupan orang melayu. Orang-orang melayu yang identik dengan Islam terus berusaha mempertahankan kegemilangan dan nilai-nilai yang di anut pada saat itu. Penggunaan media sastra memang di tujukan untuk semua aspek kehidupan masyarakat, namun yang paling menonjol adalah peran sastra melayu dalam  membangun kesadaran masyarakat tentang penegakan syariat Islam. Dengan kata lain sastra melayu merupakan sarana dakwah bagi satrawan-sastrawan pada saat itu. Hal tersebut terbukti efektif, masyarakat memiliki antusias yang sangat besar terhadap sastra dan Islam.
Selain dalam hal tersebut, sebenarnya masih banyak lagi karya sastra yang secara khusus memberikan stimulus kepada masyarakat melayu pada masa kerajaan untuk terus bergerak mendengungkan sebuah kebenaran. Menyadarkan penguasa untuk berlaku adil, mendorong masyarakat untuk tidak jemu menuntut Ilmu dan mengajak masyarakat untuk terus mempertahankan kedaulatan negeri merupakan tema-tema sastra yang di kobarkan pada saat itu

Rabu, 07 November 2012

PENGERTIAN PENGUKURAN, PENILAIAN DAN EVALUASI BIMBINGAN DAN KONSELING


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Menurut undang-undang RI No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 57 ayat 1, evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelengara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, di antaranya terhadap peserta didik, lembaga, dan program pendidikan.
Evaluasi yang dilakukan tentu saja tidak dapat terlepas dari proses pengukuran dan penilaian. Bagi sebagian besar pendidik, istilah pengukuran, penilaian, evaluasi adalah istilah yang sering digunakan dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Lebih khusus bagi guru Bimbingan dan Konseling pelaksanaan pengukuran, penilaian dan evaluasi terhadap program, proses maupun hasil pelayanan perlu dilaksanakan sebagai upaya peningkatan mutu pelayanan bimbingan dan konseling.
Namun permasalahan yang timbul ternyata masih banyak pendidik belum mengetahui tentang hakikat pengukuran, penilaian/assessment dan evaluasi. Penggabungan makna maupun penyamaaan makna antara ketiganya masih sering ditemui. Padahal penting bagi pendidik untuk mengetahui definisi ataupun konsep ketiga hal tersebut agar dalam pelaksanaannya tidak terjadi kekeliruan maupun tump ang tindih.


B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah yaitu:
1.      Apa pengertian pengukuran, penilaian/assessment, dan evaluasi dalam bimbingan dan konseling?
2.      Apa perbedaan pengukuran, penilaian/assessment, dan evaluasi dalam bimbingan dan konseling?

C.    Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka adapun tujuannya yaitu:
1.      Mengetahui pengertian pengukuran, penilaian/assessment, dan evaluasi dalam bimbingan dan konseling.
2.      Mengetahui perbedaan pengukuran, penilaian/assessment, dan evaluasi dalam bimbingan dan konseling.

D.    Manfaat
Adapun manfaat yang diharapkan melalui penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagi pembaca: penulisan makalah ini dapat dijadikan referensi untuk menambah pengetahuan tentang pengertian dan perbedaan antara pengukuran, penilaian/assesment, dan evaluasi dalam bimbingan dan konseling.

PENGELOLAAN PELAYANAN KONSELING


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sebuah organisasi yang baik ditandai dengan baiknya manajemen pengelolaan organisasi tersebut. Manajemen sebuah organisasi secara umum memiliki empat unsur yaitu: POAC. Planning, organizing, actuating, dan controlling. Ke-empat unsur manajemen ini membuat sebuah organisasi berjalan baik, dan memperoleh hasil yang maksimal.
Bimbingan dan konseling adalah sebuah organisasi, karena itu seyogyanya bimbingan dan konseling memiliki manajemen yang baik. Manajemen dalam bimbingan dan konseling bertujuan untuk  memaksimalkan pelayanan dan agar adanya kesatuan perintah diantara pelaku bimbingan dan konseling. Karena itu manajemen pelayanan bimbingan dan konseling diperlukan agar pelayanan menjadi terarah dan dapat dievalusi. Hasil evaluasi itu digunakan untuk meningkatkan pelayanan selanjutnya.
Pelaksanan prinsip POAC dalam bimbingan dan konseling sama dengan organisasi secara umum, yang membedakannya adalah objek yang diatur. Dalam organisasi perusahaan yang menjadi fokus kesatuan perintahnya adalah kinerja karyawan dalam pembuatan produk. Sedangkan dalam bimbingan dan konseling yang menjadi fokus kesatuan perintah adalah pelaksanaan layanan. Untuk lebih jelasnya akan kami jelaskan dalam bentuk makalah sebagai berikut.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Makna Manajemen Pelayanan Konseling
Dalam konteks pelayanan Bimbingan dan Konseling, manajemen pelayanan Konseling berarti proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan aktivitas-aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling dan penggunaan sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Manajemen pelayanan BK juga berarti bekerja dengan orang-orang untuk menentukan, mengintepretasikan, dan mencapai tujuan pelayanan bimbingan dan konseling dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pegarahan dan kepemimpinan, serta pengawasan.
Pelayanan bimbingan dan konseling meniscayakan manajemen agar tercapai efisiensi dan efektivitas serta pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu setidaknya ada tiga alasan mengapa manajemen itu diperlukan dalam dunia pelayanan bimbingan dan konseling, yaitu pertama, untuk mencapai tujuan. Kedua untuk menjaga keseimbangan di antara tujuan-tujuan yang saling bertentangan (apabila ada). Manajemen diperlukan dalam menjaga keseimbangan antara tujuan-tujuan, sasaran-sasaran dan kegiatan-kegiatan apabila ada yang saling bertentangan dari pihak-pihak tertentu, seperti kepala sekolah, para guru, dan pihak-pihak lainnya. Ketiga, untuk mencapai efisiensi dan efektifitas. Efeisiensi adalah kemampuan untuk menyelesaikan suasana pekerjaan dengan benar atau merupakan perhitungan rasio antara keluaran dengan masukan. Efektivitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk mencapai tujuan. Kepala sekolah yang efektif atau koordinator layanan BK yang efektif dapat memilih pekerjaan yang harus dilakukan atau metode (cara) yang tepat untuk mencapai tujuan sekolah atau tujuan Bimbingan dan Konseling.
B.     Unsur Pengelolaan
Unsur-unsur pokok pengelolaan, sebagaimana telah dikemukakan oleh ahli-ahli management, perlu diterapkan pada setiap kali penyelenggaraan kegiatan layanan/pendukung, yaitu POAC :
P : Planning
O : Organizing
A : Actuating
C : Controlling
1.      Pertama, perencanaan (Planning). Perencanaan merupakan persiapan permulaan ke arah pencapaian tujuan. Perencanaan merupakan proses untuk mempersiapkan mengenai sistem, taktik, teknik, metode, personalia, dan fasilitas yang akan digunakan dalam melaksanakan kegiatan. Perencanaan dalam bimbingan dan konseling akan sangat menentukan proses dan hasil layanan bimbingan dan konseling itu sendiri. Pelayanan bimbingan konseling sebagai suatu proses kegiatan, membutuhkan perencanaan yang matang dan sistematis dari mulai penyusunan program hingga pelaksanaannya.

ORIENTASI, FUNGSI, PRINSIP, ASAS, DAN LANDASAN PELAYANAN KONSELING: WAWASAN PROFESIONAL KONSELING


BAB I
PENDAHULUAN

Layanan konseling merupakan layanan yang membantu kliennya menyadari potensi kemudian secara mandiri dapat menyelasaikan masalah. Dalam pengertian itu bagi klien kepercayaan merupakan dasar berpijak dalam memanfaatkan layanan konseling. Bagaimana seseorang dapat mempercayai layanan konseling tergantung bagaimana ia memahami layanan itu secara tepat dan benar. Kepercayaan timbul dari keyakinan dan pemahaman bahwa layanan konseling memiliki orientasi, prinsip, fungsi, asas, dan landasan yang kuat dan didasarkan pada kebutuhan klien tersebut.
Pemahaman itu tidak serta merta timbul dari dalam diri klien. Peran seorang konselor sangat menentukan, baik konselor sebagai personal yang artinya pemahamannya sendiri terhadap orientasi, prinsip, fungsi, asas dan landasan konseling maupun perannya sebagai konselor itu sendiri. Ketika melaksanakan layanan seyogyanya konselor mampu memberikan pelayanan yang terbaik dengan mengaplikasikan layanan berdasarkan fungsi, prinsip, asas dan landasan konseling yang telah dipahaminya.
Pelayanan konseling diselenggarakan dengan orientasi, prinsip dan asas serta landasan yang secara keseluruhan terpadu dalam setiap kegiatan layanan dan aspek-aspek pendukungnya. Segenap orientasi, prinsip dan asas serta landasan tersebut terwujudkan dalam kaidah-kaidah keilmuan dan kompetensi yang dipelajari dengan sebaik-baiknya. Berikut kami sajikan kajian tentang orientasi, prinsip, fungsi, asas dan landasan yang bisa menambah pengetahuan para calon akademisi konseling yang kami buat dalam bentuk makalah.


BAB II
PEMBAHASAN


Pelayanan konseling diselenggarakan dengan orientasi, prinsip dan asas serta landasan yang secara keseluruhan terpadu dalam setiap kegiatan layanan dan aspek-aspek pendukungnya. Segenap orientasi, prinsip dan asas serta landasan tersebut terwujudkan dalam kaidah-kaidah keilmuan dan kompetensi yang dipelajari dengan sebaik-baiknya.
A.  Orientasi
Yang dimaksud dengan orientasi di sini adalah arah perhatian dan fokus dasar yang setiap kali harus menjadi pokok perhatian dalam pelaksanaan pelayanan konseling. Ada tiga orientasi yang menjadi perhatian utama, yaitu:
1.      Orientasi individual, artinya setiap layanan konseling terutama tertuju kepada subjek yang dilayani sebagai individu. Perorangan subjek yang dilayani dengan segenap keindividualannya itulah titik tuju layanan. Dalam layanan melalui format kelompok dan klasikal pun, arah kepada perorangan itu menjadi fokus. Lebih lanjut, hasil layanan juga terfokus kepada perolehan masing-masing perorangan subjek yang dilayani.
2.    Orientasi perkembangan, artinya setiap layanan konseling memperhatikan karakteristik subjek yang dilayani dari sisi tahap perkembangannya. Perkembangan merupakan suatu proses yang menggambarkan perilaku kehidupan sosial psikologi manusia pada posisi harmonis di dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas dan kompleks. Oleh Havighurst dalam Sunarto (2006:43), perkembangan tersebut dinyatakan sebagai tugas yang harus dipelajari, dijalani, dan dikuasai oleh setiap individu dalam perjalanan hidupnya. Masing-masing orang berbeda dalam perkembangan. Selain itu meskipun dua orang subjek berada pada tahap perkembangan yang sama, aspek keindividualan (individual differences) tetap harus diperhatikan. Dengan demikian orientasi perkembangan dan orientasi individual dipadukan menjadi satu.
3.    Orientasi permasalahan, artinya setiap layanan konseling terfokus pada permasalahan yang sedang dialami dan/atau yang mungkin (dapat) dialami oleh subjek yang dilayani. Hal ini secara langsung terkait dengan konsep KES dan KES-T. Pelayanan konseling tidak lain adalah mengembangan KES dan mencegah terjadinya KES-T, serta menangani KES-T apabila permasalahan memang sedang dialami oleh subjek. Terkait dengan orientasi terdahulu, maka ketiga orientasi, yaitu orientasi individual, perkembangan dan permasalahan dipadukan menjadi satu.

Hipotesis


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Penelitian salah satu unsur penting dalam kehidupan. Dengan dilakukan penelitian maka dihasilkan berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Dengan mempunyai rasa keingintahuan tentang sesuatu, mendorong manusia untuk meneliti dan menghasilkan kebenaran. Untuk melakukan penelitian maka harus dilewati berbagai tahapan, ini sesuai dengan pengertian penelitian ilmiah itu sendiri yakni menjawab masalah berdasarkan metode yang sistematis. Salah satu hal penting yang dilakukan terutama dalam penelitian kuantitatif adalah merumuskan hipotesis.
Hipotesis merupakan elemen penting dalam penelitian kuantitatif. Terdapat tiga alasan utama yang mendukung pandangan ini, di antaranya: Pertama, Hipotesis dapat dikatakan sebagai piranti kerja teori. Hipotesis ini dapat dilihat dari teori yang digunakan untuk menjelaskan permasalahan yang akan diteliti. Misalnya, sebab dan akibat dari konflik dapat dijelaskan melalui teori mengenai konflik. Kedua, Hipotesis dapat diuji dan ditunjukkan kemungkinan benar atau tidak benar atau difalsifikasi. Ketiga, hipotesis adalah alat yang besar dayanya untuk memajukan pengetahuan karena membuat ilmuwan dapat keluar dari dirinya sendiri. Artinya, hipotesis disusun dan diuji untuk menunjukkan benar atau salahnya dengan cara terbebas dari nilai dan pendapat peneliti yang menyusun dan mengujinya.
Namun tidak semua peneliti mampu menyusun hipotesis dengan baik terutama peneliti pemula. Masih banyak terdapat kesalahan dalam menyusun hipotesis. Untuk menyusun hipotesis yang baik setidaknya peneliti harus mengacu pada kriteria perumusan hipotesis, bagaimana bentuk/pola hubungan dalam penelitiannya, bagaimana pola berpikir dalam menyusun hipotesis dan jenis-jenis hipotesis. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka makalah ini akan membahas mengenai hakikat hipotesis hingga pola hubungan variabel yang berkaitan dengan penarikan hipotesis.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah yaitu:
1.      Apa pengertian hipotesis ?
2.      Apa saja fungsi hipotesis?
3.      Bagaimana karakteristik hipotesis yang baik?
4.      Apa saja jenis-jenis hipotesis?
5.      Bagaimana pola hubungan dalam penelitian?




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Hipotesis
Hipotesis berasal  dari kata hypo yang berarti kurang dan thesa yang artinya pendapat. Oleh sebab itu secara etimologis hipotesis diartikan sebagai pernyataan yang belum mendapatkan thesa.
Menurut Gay, Mills, Airasian (2009:71), “a hypothesis is a researcher’s prediction of the research findings, statement of the research expectations about the relation among the variables in the research topic”. John W Creswell (2008) memberikan definisi, “hypothesis are statements in quantitative research in which the investigator makes a prediction or a conjecture about the outcome of a relationship among attributes or characteristics”.
Menurut Bruce W. Tuckman (1972:75), “could be defines as an expectation about  the based on generalization of the assumed relationship between variables”. Best, John W, Kahn, James V (2003:11) memberikan definisi “The research or scientific hypothesis is a formal affirmative statement predicting a single research outcome, a tentative explanation  or the relationship between two or more variables”.
Menurut Nanang Martono (2010:57), hipotesis dapat didefinisikan sebagai jawaban sementara yang kebenarannya harus diuji atau rangkuman kesimpulan secara teoritis yang diperoleh melalui tinjauan pustaka. James E Greighton dalam Nanang Martono (2010:57), hipotesis merupakan sebuah dukungan tentative atau sementara yang memprediksi situasi yang akan diamati. Lungberg dalam Nanang Martono (2010:57), mendefinisikan hipotesis sebagai sebuah generalisasi yang bersifat tentative, sebuah generalisasi tentative yang valid yang masih arus diuji. Menurut Goode dan Han dalam Nanang Martono (2010:58), hipotesis adalah sebuah proposisi yang harus dimasukan untuk menguji dan menentukan validitas, sebuah hipotesis menyatakan apa yang akan dicari.

Active Learning


BAB I
PENDAHULUAN


Pembelajaran adalah suatu perbuatan yang kompleks (a highly complexion process). Disebut kompleks karena dituntut adanya kemampuan profesional, personal, dan sosio kultural secara terpadu dalam proses belajar- mengajar. Dikatakan kompleks juga karena mengandung unsur-unsur seni, ilmu, teknologi, pilihan nilai, dan keterampilan dalam proses belajar-mengajar. Segala bentuk kompleksitas tersebut harus diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan nasional.
Berdasarkan UU RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada pasal 3 dijelaskan bahwa:Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Untuk mencapai tujuan tersebut seharusnya guru menggunakan banyak pendekatan dalam proses pembelajaran. Pendekatan tersebut setidaknya mampu mendorong anak untuk berkreativitas dan mampu mengembangkan potensi anak. Oleh sebab itu dituntut seorang guru yang kreatif dan inovatif dalam mewujudkan lingkungan belajar yang menyenangkan.
Namun masih sangat sering dijumpai guru yang terus menerus menggunakan strategi pembelajaran konvensional untuk semua materi pembelajaran. Tentu saja hal ini tidak tepat. Harus ada perubahan ataupun kolaborasi berbagai strategi dan metode pembelajaran untuk membangkitkan minat siswa, salah satunya adalah active learning.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Active Learning
Lebih dari 2400 tahun yang lalu Confucius menyatakan:
Apa yang saya dengar, saya lupa
Apa yang saya lihat, saya ingat
Apa yang saya lakukan, saya paham
Mel Silberman memodifikasi dan memperluas pernyataan Confucius di atas menjadi apa yang disebutnya dengan belajar aktif (active learning), yaitu
Apa yang saya dengar, saya lupa
Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit
Apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman lain, saya mulai paham
Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan

Itulah dia


Itu dia yang katanya bermartabat
Itu dia yang orang bilang berwawasan
Itu dia yang disanjung-sanjung
Itu dia yang diagung-agungkan
Itu dia yang dianggap dermawan

Inilah penilaian banyak orang
Segala bagus tanpa kurang
Takkan sedikit pun terlihat berwajah arang
Meski ada perangai curang

Itulah dia yang diagung-agungkan
Segala keadaan mendapat pujian
Walaupun yang dikata itu terkaan
Oh manusia .. telah terbius oleh bias kemilauan

Perkataan Rasulullah pun ditentang
Serasa ada yang kurang
Mungkin tak takut diparang
Nanti berdiam seperti kukang

Itulah dia yang selalu diberikan pujian
Atas pekataan dan perbuatan
Itulah dia yang selalu diagungkan
Di atas banyak kesalahan



Padang, 6 November 2012
=Sebuah kritik atas seseorang yang selalu menganggap dirinya benar=

Minggu, 04 November 2012

BAHASA SEBAGAI SARANA BERPIKIR ILMIAH



BAB I
PENDAHULUAN

Manusia tidak dapat terlepas dari bahasa. Dengan bahasa manusia dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Hal ini dapat membuktikan bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan orang lain. Selain melalui bahasa vocal manusia juga sering menuangkan hasil pemikiran melalui tulisan.

Tikus ya tikus



Tikus rakyat
Tikus merakyat
Tikus Merayap
Tikus lagi lagi tikus

Mengapa harus tikus
Untuk apa ada tikus
Tikus ya tikus
Tikus diciptakan untuk menghasilkan tikus

Tidak .. tidak .. mengapa
Tikus dengan kaki empat diciptakan
Mungkin untuk menjaga keseimbangan alam

Lain cerita tikus kaki dua
Menggereogoti jiwa lalu sirna
Memang perlahan tapi susah Nampak belang
Kalaupun dan Nampak belang selalu diputihkan

Inilah cerita suram negeri ini
Menjadi terkenal seantero dunia bukan ?
Ini semua berkat tikus kaki dua
Aku Malu .. bagaimana dengan anda

Tikus oh tikus
Apa beda tikus kaki empat dengan tikus kaki dua
Tikus kaki empat tidak dapat berbahasa dan berpikir
Tikus kaki dua bisa berbahasa tapi tak pernah mau berpikir

Manusia sibuk membuat perangkap tikus kaki empat
Perangkap tikus kaki dua jarang diasah
Semua tunduk pada pangkat dan jabatan
Semua takut dengan mereka yang punya kuasa


Padang,  4 November 2012

Negeri lancang kuning


NEGERI LANCANG KUNING



TAKKAN MELAYU HILANG DI BUMI
FALSAFAH BEDENTUM KE PELOSOK NEGERI
KATA DIRANGKAI MAJU BUDAYA
KALIMAT BEDENGUNG CEMERLANG BANGSA

BUMI LANCANG KUNING NEGERI BERJAYA
NEGERI BERLIAN INTAN PERKASA
LAKSANA EMAS DIPUJA-PUJA
KOTA BERTUAH NAMA ELOKNYA

KERAJAAN BERSATU MEMBENTUK DUNIA
ITULAH AWAL KISAH PEMBENTUKANNYA
OH MAHLIGAI…
MARI BERKACA MELIHAT DIRI
BUDAYA NAK HILANG DISERANG POROSNYA
RUNTUH BUDAYA TERBANTING ADAT
BUDAYA TERKIKIS DIMAKAN RAYAP

ORANG PENDATANG MENJADI TUAN
MELAYU DITEKAN JADI BAWAHAN
SEGAN PAKAI BAHASA LISAN
ALHASIL MEMBILANG BAHASA BADAN

OH…. BUMI LANCANG KUNING
BANGUNLAH DARI LAMUNAN
MARI BERKOLONI MEMBANGUN KEKUATAN
BERSATU PADU MEMAJUKAN BUDAYA TEMPATAN